SUMENEP – Harga ikan hasil tangkapan nelayan di Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, mengalami penurunan drastis dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat pedagang dan nelayan kesulitan memperoleh keuntungan seperti sebelumnya.
Pantauan di Pasar Tangsi menunjukkan melimpahnya pasokan ikan tidak sebanding dengan jumlah pembeli yang datang ke pasar. Akibatnya, pedagang memilih menjual ikan dengan harga murah agar dagangannya tetap habis terjual.
Salah satu pedagang ikan di Pasar Tangsi, Ibu Rus, mengatakan penurunan harga mulai terjadi sejak pertengahan Ramadan lalu. Menurutnya, kondisi pasar semakin sepi sehingga pendapatan para pedagang ikut menurun.
“Dulu satu ekor ikan besar bisa dijual Rp10 ribu, sekarang Rp10 ribu sudah dapat tiga ekor. Pembeli sepi, sedangkan penjual ikan semakin banyak,” ujar Ibu Rus saat ditemui di Pasar Tangsi, Kamis (14/5/2026).
Ia mengungkapkan, penghasilannya kini jauh menurun dibanding sebelumnya. Jika dulu dirinya mampu memperoleh pendapatan hingga Rp300 ribu dalam sekali berjualan, saat ini omzet yang didapat hanya berkisar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu.
“Sekarang sulit. Kadang hasil jualan hanya cukup untuk modal lagi,” katanya.
Penurunan harga ikan juga dirasakan nelayan dan pedagang lainnya di wilayah Giligenting. Mereka berharap daya beli masyarakat segera meningkat agar harga ikan kembali stabil dan ekonomi warga pesisir membaik.
Warga setempat menilai melimpahnya hasil tangkapan ikan menjadi faktor utama turunnya harga di pasar tradisional. Cuaca yang mendukung aktivitas melaut membuat pasokan ikan terus bertambah setiap hari, sementara jumlah pembeli tidak mengalami peningkatan.
Para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Sumenep dapat membantu memperluas pemasaran hasil laut nelayan agar harga ikan tidak terus merosot dan perekonomian masyarakat pesisir tetap terjaga.














