SOLO – Kota asal Presiden Joko Widodo atau Jokowi mendapat julukan baru yang kontroversial. Aktivis perlindungan hewan dari koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) menyebut Solo sebagai kota “neraka bagi anjing”.
Julukan tersebut muncul karena perdagangan daging anjing atau kuliner gukguk masih marak di Kota Solo, Jawa Tengah.
Menurut aktivis DMFI, ribuan anjing dibunuh setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan warung dan restoran yang menyajikan olahan daging anjing.
Bahkan, jumlah anjing yang diperkirakan dibantai mencapai 13.700 ekor setiap bulan. Angka tersebut disebut menjadi gambaran masifnya perdagangan daging anjing di Solo dan sekitarnya.
Aktivis perlindungan hewan pun mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas. Namun, Pemkot Solo mengaku belum bisa berbuat banyak karena belum adanya regulasi yang mengatur praktik tersebut.
Ratusan Warung Jual Kuliner Daging Anjing di Solo
Kuliner daging anjing di Solo memiliki beragam menu. Mulai dari tongseng, tengkleng, rica-rica goreng, rica basah, hingga sate.
Warung yang menjual kuliner gukguk juga mudah ditemukan. Mulai dari rumah makan besar hingga warung kaki lima, semuanya menawarkan menu tersebut dengan harga relatif terjangkau.
Harga satu porsi kuliner daging anjing berkisar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu.
Keberadaan kuliner ini bahkan menarik sejumlah orang datang ke Solo. Mereka sengaja berkunjung untuk mencicipi berbagai olahan daging anjing yang tersedia.
Aktivis DMFI, Mustika, mengungkapkan hasil penyelidikan lembaganya mengenai perdagangan daging anjing di wilayah tersebut.
Berdasarkan temuan DMFI, terdapat lebih dari 200 warung yang menyajikan daging anjing di Solo dan kawasan Solo Raya. Wilayah tersebut meliputi Boyolali, Sragen, dan Klaten.
“Di daerah lain ada juga yang jual olahan daging anjing, tapi tidak selaris dan sebanyak di Solo,” katanya seperti dikutip ABC News, Senin (24/6/2019).
Perdagangan Daging Anjing di Solo Lebih Marak
Mustika menyebut jumlah warung daging anjing di Solo jauh lebih banyak dibandingkan sejumlah kota lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sebagai perbandingan, di Malang dan Surabaya jumlah warung yang menjual daging anjing diperkirakan tidak sampai 10 tempat.
Sementara itu, DMFI menemukan sekitar 10 warung di Semarang dan 21 warung di Karanganyar.
“Jadi Kota Solo ini memang gila sekali jualan daging anjingnya,” tuturnya.
Mustika mengaku telah mengamati perdagangan kuliner gukguk di Solo sejak 2011. Ia kemudian bergabung dengan Dog Meat Free Indonesia pada 2017.
Sebagai pencinta anjing, Mustika mengaku sedih melihat masifnya perdagangan hewan tersebut untuk konsumsi.
Menurutnya, warung penjual daging anjing sangat mudah ditemukan, bahkan di jalan-jalan utama Kota Solo.
“Warung ini sangat mudah ditemukan. Begitu masuk Kota Solo, di jalan raya besar sudah terlihat tuh, beberapa kilo dari setiap jalan pasti kita ketemu warung rica-rica anjing,” ujarnya.
Ia juga menyebut para pedagang menjajakan dagangannya secara terbuka. Spanduk berukuran besar dengan gambar anjing dan daftar menu menjadi pemandangan yang mudah dijumpai.
“Semua jualan terang-terangan. Spanduk mereka besar-besar dan bergambar anjing dengan tulisan menu rica-rica gukguk, tongseng basah, kering, dan sate atau daging anjing goreng,” tambahnya.















