FALIHMEDIA.COM – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil, khususnya pelaku UMKM di wilayah kepulauan seperti Kecamatan Giligenting, Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus melakukan ekspansi kredit secara masif.
Langkah ini bertujuan meningkatkan produktivitas usaha masyarakat. Namun di sisi lain, ekspansi kredit juga menyimpan risiko, terutama terhadap stabilitas likuiditas perbankan dan ketahanan ekonomi nasabah yang bergantung pada pembiayaan tersebut.
Direktur Utama BRI, Herry Gunardi, menyebut ekspansi kredit sebagai strategi agresif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.
“Kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan konsumsi domestik yang kuat menjadi landasan perekonomian Indonesia ke depan,” ujarnya, dikutip dari IpotNews (28/3/2026).
Dukungan Likuiditas dan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah turut mendukung melalui penempatan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara, termasuk BRI.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa kebijakan ini diperpanjang guna menjaga stabilitas likuiditas perbankan.
Direktur Keuangan BRI, Farida Thamrin, menilai langkah ini akan memperkuat penyaluran kredit dan menjaga transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil.
Kredit Bukan Satu-satunya Solusi
Meski kredit dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada akses pembiayaan.
Mengacu pada konsep Growth Engine dari Eric Ries, pertumbuhan ekonomi harus dirancang, diukur, dan dioptimalkan secara sistematis.
Artinya, pelaku usaha perlu memiliki:
- Kemampuan manajemen keuangan
- Strategi pemasaran
- Perencanaan bisnis yang matang
Tanpa itu, kredit justru berpotensi menjadi beban.
Pentingnya Perencanaan dan Literasi Keuangan
Pelaku usaha harus mampu:
- Menyusun anggaran usaha (operasional, produksi, distribusi)
- Mengukur kemampuan membayar cicilan
- Menganalisis peluang pasar dan keuntungan
Beberapa faktor penting dalam pengelolaan usaha:
- Akuisisi pelanggan baru
- Retensi pelanggan lama
- Proyeksi pertumbuhan usaha
Selain itu, pelaku usaha perlu melakukan tracking omzet untuk memastikan usaha berjalan sesuai target.
Prinsip Penyaluran Kredit: 5C
Dalam menyalurkan kredit, BRI menerapkan prinsip kehati-hatian melalui analisis 5C:
- Character: Riwayat kredit nasabah
- Capacity: Kemampuan membayar
- Capital: Modal yang dimiliki
- Collateral: Jaminan
- Condition: Kondisi ekonomi
Prinsip ini membuat kredit tidak dapat diakses oleh semua kalangan secara merata.
Realitas di Giligenting: Tantangan Sosial dan Ekonomi
Di Kecamatan Giligenting, kondisi sosial-ekonomi masih menjadi kendala utama:
- Tingkat pendidikan relatif rendah
- Pernikahan dini masih terjadi
- Banyak masyarakat putus sekolah
- Pendapatan masyarakat tergolong rendah
Hal ini membuat sebagian masyarakat belum siap memanfaatkan akses kredit secara optimal.
Risiko Ketimpangan dan Dampak Sosial
Ekspansi kredit yang masif berpotensi menimbulkan ketimpangan:
- Pelaku usaha berpengalaman lebih mudah mengakses kredit
- Masyarakat miskin semakin tertinggal
- Risiko gagal bayar meningkat
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu masalah sosial dan stagnasi ekonomi.
Kesimpulan
Ekspansi kredit BRI pada 2026 memang memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, kebijakan ini belum sepenuhnya efektif bagi masyarakat kepulauan seperti Giligenting.
Tanpa peningkatan literasi keuangan, pendampingan usaha, dan pemerataan akses, kredit justru bisa menjadi beban baru bagi masyarakat kecil.
Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
*) Oleh: Riski Ermanda, S.Pd, M.Pd Analis Bisnis Ekonomi Pulau Giligenting| Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UNIBA Madura
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi falihmedia.com














