SURABAYA – Sebanyak 130 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur berhasil mengembangkan kendaraan listrik mulai dari sepeda motor hingga mobil melalui konversi bahan bakar minyak (BBM) menjadi tenaga listrik.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai pengembangan kendaraan listrik tersebut menjadi modal penting bagi pendidikan vokasi dalam menghadapi era elektrifikasi otomotif di masa depan.
“Kendaraan listrik ini bukan sekadar karya praktik sekolah, tetapi sudah menunjukkan kualitas yang siap bersaing,” ujar Khofifah, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, inovasi kendaraan listrik di lingkungan SMK sejalan dengan visi pemerintah dalam mendukung transisi energi hijau serta target Net Zero Emission 2060.
Khofifah menegaskan, dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam mempercepat konversi energi fosil menuju energi nonfosil melalui inovasi teknologi otomotif ramah lingkungan.
Ia juga mengungkapkan bahwa rata-rata Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik karya siswa SMK telah mencapai sekitar 50 persen. Capaian tersebut menunjukkan potensi besar pengembangan industri kendaraan listrik lokal di Jawa Timur.
Selain menjadi sarana pembelajaran, sejumlah kendaraan listrik hasil karya siswa SMK mulai menarik perhatian dunia industri. Beberapa perusahaan bahkan mulai mengajukan permintaan konversi kendaraan BBM menjadi kendaraan listrik kepada sekolah-sekolah vokasi.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut perkembangan itu menjadi bukti kesiapan pendidikan vokasi di Jawa Timur dalam menjawab kebutuhan industri otomotif yang terus bergerak menuju teknologi ramah lingkungan.
“Yang dibuat para siswa ini bukan lagi sekadar alat praktik, tetapi sudah bisa digunakan oleh pasar,” kata Aries.
130 SMK di Jatim Kembangkan Kendaraan Listrik, Siap Hadapi Era Otomotif Elektrifikasi














