SURABAYA – Produksi padi di Jawa Timur diperkirakan mencapai 10,61 juta ton gabah kering giling (GKG) sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memproyeksikan angka tersebut tumbuh 1,62 persen dibandingkan produksi tahun 2025.
Peningkatan produksi ini didukung oleh bertambahnya realisasi panen pada dua periode pertama tahun ini. Meski demikian, BPS memperkirakan produksi pada akhir tahun mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa periode Januari-April atau subround I menjadi penyumbang kenaikan produksi terbesar dengan tambahan sekitar 0,21 juta ton GKG.
Selanjutnya, periode Mei-Agustus atau subround II turut mencatat peningkatan produksi sebesar 0,15 juta ton GKG.
Sebaliknya, BPS memperkirakan produksi pada periode Oktober-Desember atau subround III turun sekitar 0,19 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Produksi pada dua subround pertama mengalami peningkatan, sedangkan potensi produksi pada subround III diperkirakan mengalami penurunan,” jelas Herum, Selasa (3/11/2026).
Produksi Beras Jawa Timur Diperkirakan Tembus 6,12 Juta Ton
Sejalan dengan peningkatan produksi gabah, BPS juga memproyeksikan produksi beras Jawa Timur untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 6,12 juta ton sepanjang 2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 0,10 juta ton atau tumbuh 1,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Herum merinci, peningkatan produksi beras berasal dari tambahan sekitar 0,12 juta ton pada subround I dan 0,08 juta ton pada subround II.
Namun, BPS memperkirakan produksi beras pada subround III berpotensi berkurang sekitar 0,11 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Luas Panen Padi Jawa Timur Mencapai 1,85 Juta Hektare
Selain produksi, luas panen padi di Jawa Timur sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 1,85 juta hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 0,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS mencatat pertambahan luas panen terjadi pada Januari-April sebesar 0,04 juta hektare dan Mei-Agustus sebesar 0,01 juta hektare.
Sementara itu, luas panen pada Oktober-Desember berpotensi menyusut sekitar 0,04 juta hektare.
Herum menjelaskan, data luas panen Januari-September 2026 menggunakan angka tetap berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA). Adapun proyeksi Oktober-Desember masih menggunakan angka potensi berdasarkan pengamatan KSA September.
Karena itu, hasil akhir luas panen masih dapat berubah mengikuti perkembangan survei KSA pada Oktober hingga Desember.
Jawa Timur Masih Memiliki Luas Baku Sawah Terbesar
Dari sisi ketersediaan lahan pertanian, BPS mencatat luas baku sawah (LBS) Jawa Timur mencapai 1.206.475 hektare.
Angka tersebut berkurang 1.502 hektare dibandingkan luas baku sawah pada 2024 yang mencapai 1.207.977 hektare.
Meskipun mengalami penyusutan, Jawa Timur tetap menempati posisi teratas sebagai provinsi dengan luas baku sawah terbesar dibandingkan 37 provinsi lainnya di Indonesia.
BPS juga mengidentifikasi lima kabupaten sebagai penyumbang utama luas panen dan produksi padi di Jawa Timur. Kelima daerah tersebut meliputi Bojonegoro, Lamongan, Jember, Ngawi, dan Tuban.
Secara keseluruhan, lima kabupaten tersebut menyumbang sekitar 35,40 persen dari total produksi padi Jawa Timur.
Capaian ini memperlihatkan besarnya peran wilayah sentra pertanian dalam menjaga produksi pangan di Jawa Timur. Ke depan, peningkatan produktivitas dan perlindungan lahan pertanian menjadi faktor penting untuk mempertahankan posisi provinsi tersebut sebagai salah satu lumbung pangan nasional.















