SUMEDANG — Petani di Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, menghadapi ancaman kekeringan setelah debit sumber air yang mengaliri persawahan mereka dilaporkan menyusut. Warga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas penyedotan dan penampungan air oleh sebuah perusahaan pengolahan air pegunungan.
Muslim Hidayat (49), perwakilan warga Dusun Kiarajegang, mengatakan berkurangnya pasokan air mulai berdampak pada sawah yang baru ditanami padi. Warga khawatir kondisi tersebut berujung pada kegagalan panen apabila tidak segera ditangani.
Menurut Muslim, aktivitas penampungan air yang dipersoalkan warga telah berlangsung sekitar dua bulan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di lahan pertanian, tetapi juga berpotensi mengganggu kebutuhan air rumah tangga.
Warga memperkirakan lebih dari 20 hektare lahan pertanian dan lebih dari 100 warga yang memanfaatkan sumber air tersebut terdampak. Selain Desa Mekarbakti, warga Desa Sindanggalih dan Desa Cikahuripan juga disebut mengalami dampak penyusutan pasokan air.
Muslim menjelaskan, petani yang biasanya dapat memanen padi hingga tiga kali setahun khawatir frekuensi panen berkurang menjadi dua kali atau bahkan sekali apabila krisis air terus berlangsung. Kondisi itu berpotensi menekan pendapatan keluarga yang menggantungkan hidup pada pertanian.
Warga mendesak pemerintah memberikan perlindungan terhadap sumber air yang dinilai vital bagi kebutuhan masyarakat dan keberlangsungan persawahan. Mereka juga menolak aktivitas penampungan air yang dianggap mengurangi pasokan bagi warga.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Kecamatan Pamulihan, Rukmana, menyebut aktivitas perusahaan masih berupa eksperimen atau uji coba pencarian sumber air. Ia menyatakan keluhan warga akan dikoordinasikan dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sumedang dan pihak terkait lainnya.
Di tengah belum adanya penyelesaian, warga berharap pemerintah segera menindaklanjuti persoalan tersebut agar kebutuhan air untuk pertanian, rumah tangga, dan tempat ibadah tetap terjaga.






