Tak Hanya Ukir Kayu, Desa Karduluk Sumenep Punya Potensi Gula Lontar, Anyaman, Kuliner, hingga Pertanian

Potensi ekonomi Desa Karduluk Sumenep melalui kerajinan ukir kayu, gula siwalan, anyaman, dan produk UMKM warga.
Sekretaris Desa (Sekdes) Karduluk Hariv Ahmad Uyuni

SUMENEP – Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep selama ini dikenal luas sebagai salah satu sentra seni ukir kayu Madura. Namun di balik ketenaran tersebut, desa ini menyimpan berbagai potensi ekonomi lain yang berkembang melalui sektor pertanian, kuliner, agroindustri, hingga kerajinan tangan berbasis masyarakat.

Sekretaris Desa Karduluk Hariv Ahmad Uyuni mengatakan, kondisi geografis Desa Karduluk yang mendukung pertumbuhan pohon siwalan atau lontar membuka peluang besar bagi pengembangan industri olahan hasil bumi.

Menurutnya, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi menyadap nira atau legen siwalan yang kemudian diolah secara turun-temurun menjadi gula merah berkualitas.

“Gula merah khas Desa Karduluk menjadi salah satu produk olahan pangan yang terus kami dorong sebagai komoditas unggulan UMKM desa,” ujar Hariv Ahmad Uyuni, Jumat (31/7/2026).

Selain sektor olahan pangan, masyarakat Karduluk juga mengembangkan keterampilan kerajinan berbasis bahan alami. Kreativitas warga tidak hanya dituangkan melalui ukiran kayu jati, tetapi juga berkembang dalam seni anyaman.

Hariv menjelaskan, sejumlah pengrajin lokal, terutama kaum perempuan, menghasilkan berbagai produk anyaman berbahan pandan maupun lontar.

“Kerajinan anyaman mulai dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, seperti ornamen dekorasi rumah, nampan, hingga tempat alat tulis dengan ciri khas lokal,” katanya.

Juwaddah Jadi Produk Kuliner Khas Desa Karduluk

Desa Karduluk juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas Kabupaten Sumenep. Salah satu produk unggulannya adalah Juwaddah, jajanan khas Madura dengan tekstur kenyal menyerupai dodol atau jenang.

Produk tersebut kerap diperkenalkan dalam berbagai kegiatan promosi, pameran, maupun festival desa wisata untuk memperluas pasar dan mengenalkan kekayaan kuliner lokal.

Menurut Hariv, keberadaan produk kuliner tradisional menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha mikro berbasis potensi desa.

Pertanian Tegalan Jadi Penopang Ekonomi Warga

Selain sektor kerajinan dan kuliner, Desa Karduluk juga memiliki potensi besar di bidang pertanian. Wilayah desa didominasi lahan kering atau tegalan yang dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam.

Masyarakat umumnya menanam jagung varietas lokal Madura dan berbagai tanaman palawija saat musim penghujan.

“Sektor pertanian ladang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan keluarga masyarakat, termasuk bagi warga yang bekerja sebagai pengrajin,” jelas Hariv.

Dengan posisi geografis yang berada di jalur nasional, Desa Karduluk memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekonomi terpadu. Pemerintah desa melihat potensi pengembangan kawasan tersebut menjadi rest area, pusat kuliner, serta lokasi penjualan oleh-oleh khas Kabupaten Sumenep.

Secara administratif, Desa Karduluk memiliki luas wilayah sekitar 11,89 kilometer persegi atau 1.178,25 hektare. Wilayah tersebut terbagi menjadi 13 dusun, 13 RW, dan 46 RT.

Keberagaman potensi ekonomi tersebut menjadi modal penting bagi Desa Karduluk untuk terus berkembang sebagai desa produktif dengan kekuatan ekonomi berbasis budaya, kreativitas, dan sumber daya lokal.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.