Tekno  

Pakar ITB Budi Rahardjo Ingatkan Waspada Kejahatan Siber Saat Musim THR Lebaran

Pakar ITB Budi Rahardjo memberikan tips menghindari kejahatan siber saat musim THR Lebaran
Pakar ITB Budi Rahardjo menyampaikan tips keamanan digital dalam webinar literasi digital menjelang Lebaran

JAKARTA – Pemanfaatan ruang digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan pemahaman masyarakat dalam menggunakan teknologi secara bijak dan aman. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat juga diingatkan untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan siber.

Pakar Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Rahardjo, mengingatkan bahwa momentum Lebaran sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital. Kondisi ini terjadi karena masyarakat umumnya menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sehingga memiliki dana lebih dibanding hari biasa.

Menurut Budi, situasi tersebut sering menjadi celah bagi pelaku kejahatan siber untuk melakukan berbagai modus penipuan digital.

“THR saat Lebaran bisa memicu meningkatnya kejahatan siber karena masyarakat biasanya memegang uang lebih,” ujarnya dalam Webinar Cerdas Digital (Cerdik) Bedah Ruang Siber Jilid XIII bertema “THR Utuh, Data Tangguh: Gembok Data Pribadi, Lepas dari Jebakan Scam dan Investasi Bodong”, Rabu (11/3/2026).

Budi menjelaskan bahwa salah satu modus yang sering digunakan pelaku kejahatan siber adalah phishing melalui pesan singkat atau aplikasi pesan instan. Biasanya pelaku mengirimkan file berbentuk APK yang menyamar sebagai undangan pernikahan, foto paket kiriman, atau tautan menuju kanal tertentu yang tidak resmi.

Baca juga: Pemerintah Batasi Akses Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Ia menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya tidak mengklik file atau tautan yang berasal dari sumber tidak dikenal.

Jika file tersebut dibuka, data yang tersimpan di perangkat seperti komputer maupun telepon genggam berpotensi diambil oleh pelaku.

Selain itu, Budi juga mengingatkan masyarakat agar tidak pernah memberikan data pribadi kepada siapa pun di ruang digital.

“Jangan pernah memberikan data pribadi kepada siapa pun,” tegasnya.

Menurutnya, penyalahgunaan data pribadi dapat memicu berbagai masalah, seperti pendaftaran pinjaman online hingga aktivitas ilegal lainnya tanpa sepengetahuan pemilik data.

Akibatnya, seseorang bisa saja tiba-tiba mendapat tagihan dari penagih utang meskipun tidak pernah mengajukan pinjaman.

Baca juga: Cara Membuat Nada Dering WhatsApp Sebut Nama Sendiri, Praktis dan Unik

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga menyarankan masyarakat untuk selalu menggunakan kata sandi sebagai langkah dasar perlindungan data.

“Setidaknya password itu lebih baik daripada tidak ada password,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan kata sandi yang berkaitan dengan identitas pribadi seperti nama, alamat, atau tanggal lahir. Kebiasaan tersebut dinilai sangat mudah ditebak oleh pelaku peretasan.

Budi juga merekomendasikan penggunaan dua telepon genggam untuk aktivitas digital, yang dikenal sebagai strategi “Air Gap”.

Dalam strategi ini, pengguna memisahkan perangkat untuk aktivitas finansial dan aktivitas sosial.

Handphone finansial digunakan khusus untuk transaksi perbankan digital serta menerima kode OTP, sementara handphone utama digunakan untuk komunikasi, media sosial, dan hiburan.

“Kalau handphone utama diretas, tidak ada uangnya sehingga tidak ada yang bisa diambil,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mudah menginstal aplikasi yang tidak jelas sumbernya serta lebih berhati-hati menerima panggilan telepon dari nomor tidak dikenal.

Budi bahkan menyarankan masyarakat untuk tidak menerima panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak.

“Jangan terima telepon dari nama yang tidak ada di phonebook,” tegasnya.

Melalui edukasi literasi digital ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak memanfaatkan ruang digital sehingga tetap aman dari berbagai ancaman kejahatan siber, khususnya menjelang momentum Lebaran.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *