FALIHMEDIA.COM | SUMENEP– Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mengungkapkan lonjakan kasus campak di daerahnya yang mencapai ribuan anak hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Menurutnya, tingginya kasus tersebut dipicu oleh banyaknya anak yang tidak mendapatkan imunisasi saat pandemi Covid-19. Pada masa itu, kegiatan masyarakat, termasuk posyandu di desa-desa, dibatasi sehingga banyak balita terlewat dari jadwal vaksin.
“Seharusnya, setiap anak usia 9 bulan wajib mendapatkan imunisasi campak. Namun, karena pandemi, banyak yang lolos dari vaksinasi,” jelas Fauzi, Kamis (21/8/2025).
Kondisi ini membuat daya tahan tubuh anak menjadi rentan sehingga mudah terpapar virus. Lonjakan kasus yang terjadi kini merupakan dampak akumulasi dari periode pandemi ketika posyandu tidak berjalan optimal.
Selain faktor imunisasi, penyebaran campak juga diperparah oleh cuaca kemarau basah yang memengaruhi daya tahan tubuh anak-anak.
Setelah status KLB Campak ditetapkan, Pemkab Sumenep menargetkan penurunan kasus dalam waktu satu bulan melalui program lintas sektor. Dinas Kesehatan P2KB Sumenep telah menggandeng Kementerian Kesehatan, Dinkes Jawa Timur, WHO, hingga UNICEF untuk mempercepat penanganan.
Puskesmas, perangkat desa, hingga tim kesehatan lapangan dikerahkan guna melaksanakan imunisasi massal serta pengendalian kasus.
Berdasarkan data Dinkes P2KB Sumenep, sejak Januari hingga Agustus 2025 tercatat 1.944 kasus campak dengan 12 anak meninggal dunia. Hingga pertengahan Agustus, jumlah kasus terus meningkat dan kini menembus 2.035 anak.














