BANGKALAN – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) secara resmi melepas ribuan peserta Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, Kelurahan Demangan, Kota Bangkalan, Madura, Minggu (4/1/2026).
Ribuan warga NU dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti prosesi spiritual tersebut dengan berjalan kaki sejauh sekitar 17 kilometer menuju Pelabuhan Kamal. Para peserta mengawal tongkat dan tasbih, simbol amanah spiritual yang diwariskan para ulama, untuk kemudian disampaikan kepada dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Ponpes Sukorejo, Situbondo, sebagai bagian dari rangkaian perjalanan menuju Tebuireng, Jombang.
Dalam sesi wawancara, Gus Yahya tampak emosional. Ia beberapa kali menahan tangis, matanya berkaca-kaca, dan suaranya bergetar saat menekankan pentingnya “ruh jam’iyah NU”.
“Ini sekaligus mengingatkan kita semua tentang ruh, ruh, ruh jam’iyah NU yang harus terus kita jaga dan kita hidupkan sepanjang masa,” ujar Gus Yahya, didampingi dzurriyah Syaikhona Kholil, KH Makki Nasir dan KH Imam Buchori Cholil.
Momentum napak tilas ini juga menjadi simbol konsolidasi PBNU pasca dinamika internal yang sempat mencuat pada akhir 2025. Polemik yang melibatkan dualisme kepemimpinan antara Gus Yahya dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar akhirnya menemukan jalan islah melalui serangkaian pertemuan para kiai sepuh.
Kesepakatan penting dicapai dalam pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang dihadiri langsung Gus Yahya dan Rais Aam. Hasilnya, PBNU sepakat mempercepat pelaksanaan Muktamar Ke-35 sebagai jalan keluar organisatoris. Konsolidasi akhir digelar di Ponpes Miftachus Sunnah, Surabaya, memastikan transisi berjalan kondusif dan organisasi kembali solid.
Gus Yahya menegaskan, Napak Tilas Isyarah Pendirian NU bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai spiritual pendirian NU.
“Ini momentum bagi seluruh jam’iyah NU untuk mengambil berkah dari peristiwa sakral, yaitu penyampaian Isyarah Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari,” tegasnya.
Dalam prosesi tersebut, tongkat dan tasbih secara simbolis diserahkan oleh dzurriyah Syaikhona Kholil, RKH Fakhruddin Aschal, kepada dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin. Amanah itu diyakini sebagai restu spiritual berdirinya NU pada 1926, yang kini telah berusia satu abad sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Sementara itu, KH Imam Buchori Cholil menjelaskan bahwa peserta napak tilas dibatasi sekitar 1.000 orang. Rute perjalanan dimulai dari Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal, menyeberang ke Tanjung Perak, ziarah ke Sunan Ampel, singgah di kantor PCNU Surabaya, yang pernah menjadi kantor PBNU pertama, lalu melanjutkan perjalanan kereta ke Jombang dan berjalan kaki menuju Tebuireng.














