SUMENEP – Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep resmi memiliki dua pemimpin baru hasil Konferensi Cabang (Konfercab) tahun 2025 yang berlangsung di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Minggu (7/12/2025).
Melalui forum permusyawaratan tersebut, KH A Washil Hasyim ditetapkan sebagai Rais Syuriah PCNU Sumenep, sementara KH MD Widadi Rahim terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep untuk masa khidmah 2025–2030.
Sidang Konfercab dipimpin langsung oleh Rais Aam PBNU KH Abd A’la, didampingi Katib Syuriah PWNU Jawa Timur KH Ahsanul Haq serta Sekretaris PWNU Jawa Timur Muhammad Faqih. Acara tersebut diikuti oleh 24 Rais Syuriah dan 24 Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Sumenep.
Pada proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi, 24 Rais Syuriah MWC mengajukan lima nama. Berdasarkan suara tertinggi, terpilih KH Abd A’la, KH Hafidizi Sarbini, KH Abdullah Kholil, KH Thoifur Ali Wafa, dan KH Ramdlan Siradj. Karena dua nama terakhir tidak hadir dan tidak memberikan konfirmasi, posisi mereka digantikan oleh KH Pandji Taufiq dan KH Aminuddin Jazuli.
Baca juga: KH Muhammad Ali Fikri Terima Surat Tugas dari DPP PPP untuk Pilkada Sumenep 2024, Siap Jalin Koalisi
Melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi, KH A Washil Hasyim menjadi Rais Syuriah terpilih. Pengasuh Ponpes Sumber Payung tersebut menyampaikan kesiapannya mengemban amanah dari para ulama dan warga NU.
“Sebagai santri yang diajarkan untuk tidak mundur ketika dipercaya umat, insyaAllah saya siap menjalankan amanah ini,” ungkapnya.
Sementara itu, jabatan Ketua Tanfidziyah dipilih melalui pemungutan suara dari 24 Ketua Tanfidziyah MWC NU. KH MD Widadi Rahim unggul dengan 12 suara (50%), mengalahkan KH Abdul Wasid yang memperoleh 7 suara (29%) dan KH Bahrul Widad dengan 5 suara (21%).
KH Widadi mengaku tidak menyangka terpilih dalam pemilihan tersebut. Ia menegaskan komitmennya untuk membawa PCNU Sumenep ke arah sistem kelembagaan yang lebih baik serta menghidupkan kembali karakter dakwah ala NU.
“Dakwah qouliyah, fi’liyah, dan haliyah harus diperkuat agar manfaat NU benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa dinamika di tingkat PBNU tidak akan mengganggu jalannya program di daerah.
“Jika kepala di atas sakit, bukan berarti perut di bawah ikut sakit,” pungkasnya.













