Cuaca Ekstrem Hentikan Penyeberangan Gilimanuk-Ketapang Dua Kali, Antrean Kendaraan Mengular

Antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk saat penyeberangan menuju Ketapang dihentikan akibat cuaca ekstrem di Selat Bali.
Antrean kendaraan mengular di Pelabuhan Gilimanuk setelah BPTD menghentikan sementara penyeberangan menuju Ketapang akibat cuaca ekstrem di Selat Bali.

JEMBRANA – Cuaca ekstrem yang melanda Selat Bali kembali mengganggu aktivitas penyeberangan di lintasan Gilimanuk-Ketapang, Rabu (29/7/2026). Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Bali Wilayah Kerja Gilimanuk menghentikan sementara operasional penyeberangan sebanyak dua kali dalam sehari untuk menjaga keselamatan pelayaran.

Petugas menghentikan pelayaran pada siang dan sore hari dengan durasi sekitar satu hingga dua jam. BPTD mengambil langkah tersebut setelah kondisi cuaca di Selat Bali dinilai membahayakan pelayaran.

Perwira Jaga Kantor BPTD Kelas II Bali Wilker Gilimanuk, Moises Da Silva E Cruz, menjelaskan bahwa tinggi gelombang mencapai 3 hingga 4 meter. Selain itu, kecepatan angin berkisar 30 hingga 35 knot dengan arus laut yang sangat kuat.
“Kondisi tersebut berpotensi membahayakan keselamatan penumpang maupun kru kapal. Karena itu, kami menghentikan sementara penyeberangan hingga kondisi cuaca kembali memungkinkan,” ujar Moises.

BPTD mencatat cuaca buruk telah memaksa petugas melakukan penundaan atau penutupan sementara layanan penyeberangan sebanyak lima kali dalam sepekan terakhir di Pelabuhan Gilimanuk maupun Pelabuhan Ketapang.

Selama periode tersebut, BPTD terus berkoordinasi dengan BMKG Bali, BMKG Ketapang, nahkoda kapal, PT ASDP, serta instansi terkait untuk memantau perkembangan cuaca di Selat Bali.

Menurut Moises, prakiraan cuaca menunjukkan potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga Agustus 2026. Oleh sebab itu, pihaknya meminta masyarakat yang hendak menyeberang melalui lintasan Gilimanuk-Ketapang agar terus memantau informasi resmi dari petugas.

“Keselamatan seluruh pengguna jasa penyeberangan menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar bersabar apabila terjadi penundaan pelayaran,” katanya.
Penghentian sementara operasional penyeberangan menyebabkan antrean kendaraan di kedua pelabuhan. Di Pelabuhan Gilimanuk, antrean didominasi truk angkutan barang dan bus yang menunggu layanan kembali dibuka.

Salah seorang sopir truk asal Banyuwangi, Imam Nur Hamid, mengaku telah menunggu sejak sore hari di Pelabuhan Gilimanuk. Ia memilih bertahan hingga pelayaran kembali beroperasi agar dapat melanjutkan perjalanan pulang.

“Saya mendapat informasi dari pedagang nasi bahwa pelabuhan ditutup sejak sekitar pukul empat atau lima sore karena ombak besar. Saya memilih menunggu sampai penyeberangan dibuka kembali supaya bisa pulang,” ujar Imam.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.