Hukrim  

Alumni WBP Demo Lapas Narkotika Pamekasan, Tuduh Ada Sewa Kamar Rp75 Juta dan Peredaran HP

Aksi demonstrasi Alumni WBP di Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan terkait dugaan sewa kamar dan peredaran HP di dalam lapas.
Puluhan Alumni WBP menggelar aksi demonstrasi di depan Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan, Kamis (26/2/2026).

PAMEKASAN – Puluhan massa yang tergabung dalam kelompok Alumni Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menggelar aksi demonstrasi di depan Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan, Kamis (26/2/2026). Mereka menyuarakan dugaan praktik ilegal di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut.

Koordinator lapangan aksi, Nasiruddin, menyampaikan secara terbuka dugaan bisnis sewa kamar bagi narapidana agar dapat menikmati fasilitas khusus selama menjalani masa hukuman. Ia mengaku mengalami langsung praktik tersebut saat masih menjadi warga binaan.

“Untuk membuka satu kamar, harganya sekitar Rp75 juta, bahkan ada yang lebih. Satu kamar bisa diisi sekitar 13 orang dan dikelola seorang kepala kamar yang bertindak sebagai bos,” ujar Nasiruddin kepada awak media usai aksi.

Selain dugaan jual-beli kamar, massa juga menyoroti peredaran telepon seluler di dalam lapas. Nasiruddin menyebut oknum petugas menawarkan handphone kepada narapidana dengan harga fantastis.

“Satu unit HP bisa mencapai Rp30 juta. Pembeliannya melalui oknum petugas, dengan harga yang bervariasi sesuai merek,” tegasnya.

Nasiruddin juga mengungkapkan kekecewaannya atas pemindahan dirinya ke Lapas Porong saat mengurus proses Pembebasan Bersyarat (PB). Ia menduga pihak tertentu memindahkannya karena sikap kritisnya terhadap dugaan praktik di dalam lapas.

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan langsung memberikan klarifikasi. Zakaria Yahya selaku Kepala Subseksi Pelaporan membantah seluruh tuduhan yang disampaikan massa aksi.

“Kami berkomitmen menerapkan zero HP dan narkoba di dalam lapas. Petugas rutin menggelar penggeledahan acak tanpa adanya kamar atensi atau perlakuan khusus,” ujar Zakaria.

Ia juga menegaskan bahwa pihak lapas tidak pernah melegalkan praktik jual-beli kamar seperti yang dituduhkan. Meski demikian, manajemen lapas tetap akan melakukan penelusuran dan pendalaman atas informasi tersebut.

“Kami mengapresiasi aspirasi yang disampaikan. Kami akan melakukan cross-check untuk memastikan kebenarannya,” tambahnya.

Pihak lapas juga melibatkan unsur TNI dan Polri dalam sejumlah kegiatan penggeledahan sebagai bentuk transparansi dan komitmen menjaga integritas lembaga.

Aksi demonstrasi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan lanjutan terkait hasil penelusuran internal pihak lapas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.