Edu  

Hari Santri 2026, K. Rudi Hartono Ungkap 3 Indikator Santri NU

Avatar of Falih Media
Istighasah dan Resepsi Hari Santri 2026 MWCNU Dasuk di Sumenep
Kegiatan Istighasah dan Resepsi Hari Santri 2026 MWCNU Dasuk di Gedung KH. Mannan Jazuli, Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Sumenep

SUMENEP – Menjadi santri Nahdlatul Ulama (NU) tidak cukup sekadar mengenal organisasi atau menyandang identitas sebagai warga NU. Santri juga dituntut memahami nilai-nilai perjuangan serta terlibat aktif dalam mengamalkannya di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pesan tersebut disampaikan K. Rudi Hartono dalam tausyiah pada kegiatan Istighasah dan Resepsi Hari Santri 2026 yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Dasuk di Gedung KH. Mannan Jazuli, Kantor MWCNU Dasuk, Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Rabu (21/10/2026) malam.

Kerjasama Media

Dalam tausyiahnya, K. Rudi Hartono menjelaskan tiga indikator menjadi santri NU, yakni belajar dan memahami NU, berjuang bersama NU, serta memiliki keyakinan terhadap NU. Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi landasan agar identitas santri tidak sebatas pengakuan, tetapi juga tercermin dalam pemahaman dan tindakan nyata.

“Menjadi santri NU itu harus belajar dan mengerti tentang NU, berjuang bersama NU, serta yakin kepada NU. Jangan hanya mengaku sebagai santri NU, tetapi juga harus ikut dalam perjuangannya,” demikian pesan tausyiah K. Rudi Hartono.

Ia juga mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang sekaligus merefleksikan perjuangan para ulama dan santri dalam mempersiapkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu, santri diharapkan tidak melupakan sejarah perjuangan tersebut. Selain memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, santri juga diingatkan untuk mengikuti arahan ulama NU dalam menjalankan pengabdian kepada agama, masyarakat, dan bangsa.

Rangkaian Istighasah dan Resepsi Hari Santri 2026 MWCNU Dasuk diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubbanul Wathan, dan Mars Hari Santri. Acara kemudian dilanjutkan dengan istighasah yang dipimpin Rais Syuriah MWCNU Dasuk, K. Paiyat, serta pembacaan shalawat Nabi oleh Jam’iyah Shalawat Nurut Tawwabin.

Ketua MWCNU Dasuk, K. Hadis Thaha, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir serta mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia juga mengungkapkan rasa bangga dan haru atas kehadiran para jamaah. Pada kesempatan itu, K. Hadis Thaha turut menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan selama pelaksanaan acara.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Mustasyar MWCNU Dasuk, KH. Ruslan, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

Acara tersebut dihadiri jajaran Mustasyar, Syuriah, dan Tanfidziyah MWCNU Dasuk, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Dasuk, badan otonom dan lembaga NU, pengurus NU se-Kecamatan Dasuk, serta santri, guru ngaji, dan masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *