Pagi hari yang indah, mentari terbit dihiasi sinar terang. Seorang anak berlari kecil ke arah kakeknya membawa seikat lidi, lalu menyerahkannya kepada kakek.
Ia duduk dengan asal, sehingga kakek menegurnya. “Reni, duduk yang benar.”
Kakek membantu Reni untuk duduk. Umurnya yang masih kecil tidak tahu apa itu duduk dengan benar.
Reni memandangi kakinya yang sedang mengayun dan bertanya pada kakek. “Kek, kenapa kita jalan pakai kaki?”
Kakek tertawa kecil, suaranya serak namun hangat.
“Kita diciptakan oleh Tuhan memang pakai kaki, makanya kita harus bersyukur. Di luar sana ada saja orang yang tidak punya kaki.”
Reni mengangguk faham. Reni membantu kakek membuat sapu lidi, belajar dan bercerita bersama sang kakek.
Beberapa hari berlalu, Reni pergi ke tempat kursi kayu berada, berharap ada kakek duduk di sana.
“Di mana kakek?”
Kursi itu kosong, tidak ada yang menyinggahinya. Ia masuk kembali ke dalam rumah, merasa bosan, dan mengambil handphone di atas nakas milik ibu.
Rumah yang semula ramai, kini sepi. Orang-orang pergi untuk ke pemakaman. Saudara seumurannya menghampiri.
“Reni, kamu nggak ikut ke makam?”
Reni menggeleng, ia belum mengerti apa itu makam. “Nggak, aku mau di rumah aja.”
Ia di rumah bersama ponakan kecilnya. Orang tuanya menuruti kemauan putrinya yang masih kecil.
Musim berganti musim.
Sekarang Reni mengenakan seragam putih biru. Ia duduk di kursi kayu itu. Warnanya pudar, lapuk, namun tetap kokoh.
Reni teringat kenangan yang masih membekas di kursi itu. “Kakek, terima kasih, tapi kapan kakek bertamu lagi?”
Tetesan air mata membasahi pipinya, ia mengusap lembut dengan tangan. Ia teringat penyesalan kala itu tidak ikut serta ke tempat peristirahatan terakhir kakek.
*) Oleh: Aghnina Nafisatul Aida, SMP Kebon Cinta, Indramayu, Jawa Barat








