Syntia baru tamat SMA. Ijazahnya masih wangi fotokopian, masih dilipat rapi di dalam map plastik bening yang dibeli ibunya di pasar Siborongborong. David seumuran dengan Syntia, hanya saja dia tamat SMP lalu tidak melanjutkan SMA. Bukan karena dia tidak mampu, nilainya bahkan lebih bagus dari Syntia saat SD dulu. Namun waktu itu ekonomi keluarganya sedang jatuh, ayahnya sakit, sehingga dia harus membantu ibunya berjualan di pajak pagi.
Pertama kali mereka dekat bukan di sekolah, melainkan di latihan musik pemuda gereja. Syntia kebagian menjadi penyanyi, suaranya cempreng tetapi penuh semangat. David kebagian mengangkat sound system yang berat. Waktu itu kabel mikrofon Syntia lepas, David yang memperbaikinya sambil berkeringat. Dari situ Syntia berpikir, laki-laki ini tidak banyak bicara, tetapi giat bekerja.
Orang-orang di gereja kadang berbisik, “Syntia kan SMA, David hanya SMP, bagaimana itu?”
Syntia hanya tersenyum. Sebab yang mereka tidak tahu, David itu kalau berdoa paling keras menyebut nama Syntia. Dan Syntia kalau berdoa malam, yang disebut pertama bukan nilai ujian, melainkan “Tuhan, lancarkan pekerjaan David besok.”
Sore itu setelah ibadah pemuda, mereka duduk di bangku belakang gereja. Gereja sudah sepi, tinggal mereka berdua dan penjaga gereja yang sedang merapikan kursi dan mematikan kipas angin satu per satu.
“Vid, jujur ya. Aku kadang minder,” kata Syntia pelan. Tangannya memainkan ujung Alkitabnya yang sampulnya sudah agak terkelupas di pojok karena sering dibawa ke mana-mana. “Aku SMA, kamu SMP. Aku takut kamu merasa kecil di depanku. Takut orang membicarakan kamu.”
David tertawa. Tawa khas David yang giginya terlihat semua, yang membuat Syntia sebal tetapi rindu kalau tidak melihatnya sehari.
“Syn, dengar ya. Di hadapan Tuhan kita sama. Tidak ada kolom ijazah di formulir doa. Adanya kolom Tuhan, tolong jaga dia. Dan di kolom itu, nama kamu selalu nomor satu yang saya tulis. Tidak pernah saya lewatkan.”
Syntia langsung melotot, lalu memukul pelan lengan David. “Bucin sekali kamu! Di gereja juga bucin! Nanti didengar Pak Pendeta!”
David tidak berhenti. “Harus. Habis ibadah kan harus praktik kasih. Nah ini saya sedang praktik kasih kepada kamu. Kasih yang sesuai firman, bukan kasih yang main-main.”
“Terus rencana kita bagaimana, Vid? Kita kan seumuran, kita mau apa? Aku tidak mau kita hanya pacaran saja, aku mau kita kerja bersama,” kata Syntia serius.
David langsung mengeluarkan ponsel lamanya yang layarnya retak di pojok kiri bawah karena pernah jatuh saat mengantar galon. Dibuka catatan.
“Oke, ini rencana Bos David dan Bos Syntia, versi Kristen tetapi realistis, bukan khayalan,” katanya bergaya.
“Rencana A: Kamu pandai bicara, pandai menulis, lulusan SMA. Kamu yang jadi bagian depan. Yang mengurus pelanggan, yang membuat tulisan jualan yang bagus, yang doa pembuka kalau kita mulai usaha.”
Syntia mengangguk-angguk, sudah seperti rapat OSIS.
“Rencana B: Saya bagian belakang. Saya yang antar, saya yang angkut, saya yang betulkan kalau ada yang rusak. Tenaga saya masih banyak, Syn. Lulus SMP bukan berarti lulus menjadi tulang punggung.”
“Rencana C,” lanjut David, suaranya agak pelan. Dia menulis di catatan ponselnya, lalu memperlihatkan kepada Syntia: Kita menabung bersama. Kerja bersama. Pelayanan bersama di pemuda. Sukses bersama. Tuhan di tengah-tengah kita. Tidak ada yang ditinggal, tidak ada yang meninggalkan.
Syntia membaca itu, matanya langsung berkaca-kaca.
“Vid, kamu serius mau seperti itu dengan aku? Padahal kamu bisa dapat yang lebih pintar.”
“Yang lebih apa? Syn, saya tidak mencari ijazah. Saya mencari yang kalau saya sedang lelah bekerja, bau keringat, dia masih mau mendoakan saya. Dan itu hanya kamu.”
Sekarang setiap pagi sebelum mereka mulai jualan kecil-kecilan — jualan stiker ayat, gelang manik-manik, dan minuman cokelat di depan gereja setiap minggu — mereka berdoa bersama dulu lewat telepon.
Doanya David sederhana sekali: “Tuhan, berkati tangan Syntia hari ini. Biar apa yang dia kerjakan berhasil. Kalau dia lelah, beri dia istirahat. Amin.”
Doanya Syntia: “Tuhan, jaga David. Beri dia percaya diri, biar dia tahu ijazahnya hanya SMP tetapi hatinya tinggi di mataku. Amin.”
Pernah satu minggu jualan mereka sepi sekali. Hujan dari pagi, yang datang ke gereja hanya sedikit. Stiker mereka tidak laku satu pun. Syntia sudah mau menangis di teras.
David datang membawa dua pop mie yang masih panas.
“Tidak laku ya? Tidak apa-apa,” kata David santai. “Berarti Tuhan sedang mengajari kita sabar. Minggu lalu laku banyak kita bersyukur, minggu ini sepi kita juga bersyukur.”
Kalau ada yang membeli lalu komplain, Syntia panik, “Vid, katanya talinya putus!”
David menjawab santai, “Bilang saja, Kak, maaf ya, nanti kita ganti, bonus doa dari kita berdua biar harinya diberkati.”
Malam minggu, mereka tidak nongkrong seperti pasangan lain di kafe mahal. Mereka duduk di teras rumah Syntia, menghitung hasil jualan minggu itu, recehan dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu ditata di atas tikar, sambil mendengarkan lagu rohani pelan-pelan dari ponsel David yang pengeras suaranya agak pecah.
“Syn, minggu ini untung seratus dua puluh ribu,” kata David bangga.
Syntia bertepuk tangan heboh, “Puji Tuhan! Bisa buat beli Alkitab baru buat kamu!” Malam itu setelah menghitung uang, Syntia menatap David lama.
“Vid, capek tidak?” tanya Syntia.
David menggeleng. “Tidak, kalau sama kamu. Justru saya bersyukur. Orang lain seusia kita sibuk gengsi soal ijazah, kita sibuk hitung recehan tapi hati kita tenang karena ada Tuhan.”
Syntia mengangguk. “Betul. Saya dulu minder lihat teman SMA lain lanjut kuliah. Tapi sekarang saya sadar, jalan kita beda. Tuhan tidak lihat ijazah kita, Tuhan lihat kesetiaan kita.”
David tersenyum, lalu menutup buku catatan kecilnya yang sudah penuh coretan angka. “Janji ya, Syn. Apa pun kata orang, kita tetap pelayanan bareng. Kalau nanti kita punya rezeki lebih, kita bantu pemuda gereja yang lain yang juga kesulitan biaya sekolah.”
Syntia mengulurkan tangan, “Janji. Kita buktikan, tamat SMP atau SMA bukan akhir, ini baru awal. Awal rencana kita di atas doa yang sama.”
Malam semakin larut, lagu rohani dari ponsel David masih mengalun pelan. Di teras sederhana itu, dua anak muda seumuran sedang membangun mimpi, bukan dengan gengsi, melainkan dengan doa.
Orang lain mengukur masa depan pakai ijazah, pakai IPK, pakai ranking. Syntia dan David mengukur masa depan pakai doa yang sama-sama mereka panjatkan setiap malam.
Seumuran. Sama-sama Kristen. Satu tamat SMA, satu tamat SMP. Tetapi punya Tuhan yang sama, dan rencana yang sama: Kerja bersama, dukung bersama, pulang ke gereja yang sama, sukses bersama. Pelan-pelan, tetapi bersama-sama.
Tidak perlu sama tinggi ijazahnya. Cukup sama tinggi imannya. Dan sama besar kasihnya untuk Tuhan dan untuk satu sama lain.
Tamat
*) Oleh: Syntia Adelina Marture Hutabarat, SMA Negeri 2 Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara











