SUMENEP – Warga Desa Tamidung, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dikejutkan dengan semburan air bercampur lumpur saat pengeboran sumur, Senin (14/9/2026). Fenomena tersebut diduga membawa gas yang mudah terbakar.
Semburan muncul ketika Asdino mengebor sumur di lahan tegalan miliknya untuk mencari sumber air di tengah kondisi kekeringan. Pengeboran saat itu telah mencapai kedalaman sekitar 40 meter.
Halim, warga yang menyaksikan kejadian tersebut, mengatakan air bercampur lumpur tiba-tiba keluar dari lubang pengeboran. Semburan itu juga disertai bau yang cukup menyengat.
“Waktu pengeboran sampai sekitar 40 meter, tiba-tiba keluar air bercampur lumpur. Baunya juga menyengat,” kata Halim, Senin (14/9/2026).
Warga kemudian mencoba memastikan dugaan adanya gas yang keluar bersama semburan air dan lumpur. Mereka sempat menyulut api di genangan air yang berada tidak jauh dari titik pengeboran.
Api ternyata menyala di atas permukaan genangan tersebut. Kobaran api bahkan disebut mencapai ketinggian hampir dua meter. Kondisi itu membuat warga khawatir sehingga proses pengeboran akhirnya dihentikan.
“Karena penasaran, warga mencoba menyulut api di genangan air. Ternyata langsung menyala dan tingginya hampir dua meter,” ujar Halim.
Halim menyebut kejadian tersebut merupakan fenomena pertama yang diketahuinya terjadi di Desa Tamidung. Warga hingga kini belum mengetahui secara pasti kandungan maupun jenis gas yang diduga keluar bersama air dan lumpur.
Karena itu, warga berharap pihak berwenang segera melakukan pemeriksaan di lokasi. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan sumber dan kandungan gas sekaligus menentukan langkah pencegahan agar kondisi tersebut tidak membahayakan masyarakat.
“Kami berharap segera ada tim berwenang yang datang untuk melakukan pemeriksaan dan langkah preventif agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan warga,” jelas Halim.
Warga juga diminta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu bahaya, termasuk menyalakan api di sekitar genangan maupun lubang pengeboran sebelum lokasi dinyatakan aman. Pemerintah daerah diharapkan segera berkoordinasi dengan instansi teknis untuk menindaklanjuti fenomena tersebut.








