FALIHMEDIA.COM – Aliran Maturidiyah merupakan salah satu cabang penting dalam teologi Islam yang dinisbatkan kepada Abu Mansur al-Maturidi. Aliran ini termasuk dalam kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menekankan pendekatan rasional dalam memahami ajaran agama, khususnya dalam bidang ilmu kalam (teologi). Maturidiyah menyeimbangkan peran akal dan wahyu: akal diberi ruang untuk menalar, namun tetap tunduk ketika bertentangan dengan syariat.
Dalam menafsirkan Al-Qur’an, al-Maturidi menerapkan prinsip penting: ayat-ayat mutasyabihat ditafsirkan dengan bantuan ayat-ayat muhkam. Penalaran akal menjadi kewajiban, tetapi dilakukan secara hati-hati. Jika seseorang tidak mampu menakwil ayat-ayat yang samar, maka dianjurkan untuk bersikap tawakkal.
Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah
Berikut ini prinsip-prinsip utama ajaran Maturidiyah yang diambil dari buku Akidah Akhlak oleh Siswanto (2020):
Kewajiban Mengenal Allah dan Syariat
Meskipun akal mampu membedakan yang baik dan buruk secara objektif, syariat tetap diperlukan untuk memahami secara utuh kewajiban agama. Berbeda dengan Mu’tazilah, Maturidiyah menyatakan bahwa wahyu adalah sumber utama perintah dan larangan agama.
Konsep Kebaikan dan Keburukan
Tiga pandangan utama Maturidiyah tentang akal dan moralitas:
Kebaikan objektif dapat dikenali akal (contoh: mencuri itu salah).
Ada hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Beberapa kebenaran/keburukan tak bisa dijangkau akal, sehingga syariat menjadi sumber utama.
Perbuatan Manusia
Maturidiyah mengajarkan bahwa perbuatan manusia adalah hasil dari kehendak dan penciptaan Allah, namun manusia tetap memiliki kehendak parsial. Ajaran ini berada di tengah antara faham fatalisme dan kehendak bebas.
Janji dan Ancaman Tuhan
Pelaku dosa besar tetap dianggap mukmin selama imannya masih ada. Nasibnya di akhirat berada di tangan Allah, yang bisa mengampuni atau menghukumnya.
Tokoh-Tokoh Penting Aliran Maturidiyah
Beberapa tokoh utama yang berperan dalam perkembangan Maturidiyah antara lain:
Abu al-Qasim al-Samarqandi, Abu al-Yusr al-Bazdawi, Abu Hafs al-Nasafi, Sa’d al-Din al-Taftazani, Kamal al-Din al-Bayadi, Abu al-Laith al-Bukhari dan Abu al-Hasan al-Rastagfani.
Abu Mansur al-Maturidi: Pendiri dan Penggerak
Lahir di Maturid, wilayah Samarkand (sekarang Uzbekistan) pada abad ke-9 M, Abu Mansur al-Maturidi adalah seorang ulama Hanafiyah yang produktif menulis. Di antara karyanya yang terkenal adalah Ta’wilat al-Qur’an dan Kitab al-Tauhid. Pemikirannya menekankan pentingnya akal dalam memahami agama, namun tidak mengabaikan otoritas wahyu.
Perbedaan Maturidiyah Samarkand dan Bukhara
Aliran ini terbagi dua berdasarkan pengaruh tokoh lokalnya:
Maturidiyah Samarkand
Lebih mendekati Mu’tazilah dalam menakwil sifat-sifat Tuhan (tangan, mata, dll.) sebagai metafora. Meyakini bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat, meski caranya tak bisa dijelaskan secara akal.
Maturidiyah Bukhara
Dipengaruhi oleh pemikiran Abu al-Yusr al-Bazdawi. Pandangan tentang Al-Qur’an ditekankan bahwa kalam Allah bersifat kekal, tetapi teks yang tertulis adalah representasi kiasan (majaz), bukan hakikat kalamullah itu sendiri.
Abu al-Yusr al-Bazdawi: Tokoh Utama Bukhara
Lahir tahun 421 H, ia dikenal sebagai penjaga mazhab Hanafi dan pemikir utama dalam Maturidiyah Bukhara. Kakeknya adalah murid langsung al-Maturidi. Ia menulis banyak karya dalam bidang fiqih dan kalam, dan membagi ilmu menjadi dua: tauhid dan syariat.
*Penulis: Ismail
“Redaksi FalihMedia menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi FalihMedia”





