BI Siapkan Insentif untuk Tarik Modal Asing dan Jaga Rupiah

Avatar of Aruel Fauzan
Gubernur BI Destry Damayanti membahas insentif untuk menarik modal asing dan menjaga stabilitas rupiah
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan langkah bank sentral untuk menarik kembali modal asing dan menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah terarah untuk mendorong masuknya kembali modal asing ke pasar keuangan domestik setelah muncul perkembangan terkait penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral terus memantau pergerakan arus modal asing atau capital outflow setelah perkembangan terkait MSCI. Meski nilai tukar rupiah menghadapi tekanan, BI menilai kondisi tersebut masih relatif normal, terutama karena pasar keuangan regional juga sedang menghadapi situasi yang kurang kondusif.

Kerjasama Media

“Kami melihat bahwa tekanan masih dalam relatif normal karena regional tidak baik. Kami waspadai di capital market kita, kami monitor outflow sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI,” ujar Destry.

Ia menjelaskan, BI telah melakukan pembahasan intensif selama dua hari untuk merespons perkembangan di pasar keuangan. Dari pembahasan tersebut, bank sentral menyiapkan langkah yang lebih terarah guna mendorong aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia.

Destry menegaskan, menjaga stabilitas pasar keuangan menjadi prioritas utama BI di tengah ketidakpastian global. Meski demikian, kebijakan stabilisasi tetap perlu berjalan seiring dengan upaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Concern stabilitas prioritas kami. Fokus kami adalah mendatangkan inflow kembali,” tegasnya.

Untuk meningkatkan daya tarik investasi di pasar domestik, BI mengoptimalkan berbagai insentif bagi investor yang menempatkan dana pada aset keuangan Indonesia. Instrumen yang menjadi perhatian meliputi Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pendanaan dalam bentuk pinjaman.

Salah satu kebijakan yang dioptimalkan adalah insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Insentif ini ditujukan untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging investor hingga 45%.

Menurut Destry, insentif tersebut telah diterapkan sejak Juni hingga Oktober. BI berharap penguatan insentif dapat meningkatkan minat investor asing untuk menempatkan dana pada instrumen keuangan domestik.

BI juga mencermati penyesuaian harga atau repricing pada pasar obligasi pemerintah. Kondisi tersebut, apabila disertai dengan peningkatan insentif, diharapkan dapat membuat imbal hasil aset keuangan Indonesia lebih menarik dibandingkan aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).

“Harapan bahwa pasar domestik kita terjadi repricing di SBN, kemudian ditambah insentif diperbesar, akan membuat spread aset domestik dengan USD menjadi menarik. Kami fokus dan targeted mendatangkan inflow,” jelas Destry.

Melalui strategi tersebut, BI berharap arus modal asing dapat kembali mengalir ke pasar keuangan Indonesia. Masuknya dana asing diharapkan turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.

Namun, efektivitas langkah tersebut tetap bergantung pada respons investor, perkembangan kondisi regional, serta arah pergerakan pasar keuangan internasional.

Selain mengoptimalkan insentif bagi investor asing, BI juga memanfaatkan kebijakan likuiditas untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik.

Destry menyebut penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2% berpotensi menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun. Tambahan likuiditas tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan pembiayaan bagi perekonomian sekaligus membantu transmisi kebijakan moneter.

“Termasuk penurunan GWM 2% akan ada likuiditas Rp 190 triliun. Jadi kita berusaha untuk mengoptimalkan kebijakan yang kami miliki,” katanya.

Melalui kombinasi insentif investasi dan kebijakan likuiditas, BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar keuangan dan pertumbuhan ekonomi. Bank sentral juga terus memantau pergerakan modal asing serta tekanan terhadap rupiah untuk menentukan langkah yang sesuai dengan perkembangan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *