JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto melantik Bambang Soesatyo atau Bamsoet sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Bamsoet dilantik bersama 25 tokoh nasional lainnya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden.
Dalam susunan baru tersebut, Pratikno menjabat sebagai Ketua Wantimpres. Sementara itu, Hatta Rajasa dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua.
Bamsoet menilai jabatan barunya merupakan kelanjutan dari pengabdian kepada negara. Setelah hampir 20 tahun bertugas di parlemen, ia ingin membawa pengalaman tersebut dalam memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
“Saya memandang amanah sebagai Anggota Wantimpres sebagai kelanjutan dari pengabdian di lembaga yang berbeda. Selama hampir 20 tahun berada di parlemen, saya belajar bahwa setiap kebijakan negara membutuhkan pertimbangan yang matang, melihat persoalan dari berbagai sudut, sekaligus mendengar suara masyarakat. Pengalaman tersebut akan saya bawa dalam menjalankan amanah sebagai Wantimpres,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).
Rekam Jejak Bamsoet di DPR dan MPR
Bamsoet memiliki pengalaman panjang di lembaga legislatif. Ia pernah memimpin Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan pada 2016-2018.
Karier politiknya kemudian berlanjut dengan menjabat sebagai Ketua DPR RI ke-20 pada 2018-2019. Setelah itu, Bamsoet dipercaya memimpin MPR RI sebagai Ketua MPR periode 2019-2024.
Bamsoet pertama kali terpilih menjadi anggota DPR RI melalui daerah pemilihan Jawa Tengah VII pada Pemilu 2009. Kepercayaan masyarakat kembali ia peroleh dalam pemilu-pemilu berikutnya.
Pengalaman tersebut membuat Bamsoet terlibat langsung dalam berbagai proses legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Selain itu, ia juga memahami hubungan antarlembaga negara.
“Saya melihat pengalaman sebagai Ketua DPR dan Ketua MPR memberikan perspektif yang cukup lengkap mengenai bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi kebijakan publik, bagaimana aspirasi masyarakat masuk ke dalam proses politik, dan bagaimana lembaga negara harus membangun komunikasi agar keputusan yang diambil dapat berjalan efektif,” katanya.
Karena itu, Bamsoet berkomitmen menggunakan pengalaman tersebut saat menjalankan tugas sebagai anggota Wantimpres.
Ia juga menegaskan pentingnya data dan kepentingan nasional dalam menyusun setiap masukan kepada Presiden.
“Karena itu, saya akan berusaha memberikan pertimbangan yang objektif, berbasis data dan kepentingan nasional,” ujar Bamsoet.
Pengalaman Bamsoet di Partai Golkar
Selain di parlemen, Bamsoet juga memiliki perjalanan politik panjang di Partai Golkar.
Ia pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Golkar ketika Aburizal Bakrie memimpin partai tersebut.
Selanjutnya, Bamsoet menduduki posisi Wakil Ketua Umum Partai Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto. Setelah kepemimpinan partai beralih kepada Bahlil Lahadalia, ia kembali dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum.
Menurut Bamsoet, pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai dinamika internal partai, pengambilan keputusan politik, dan kaderisasi.
Selain itu, ia memahami hubungan partai dengan masyarakat serta lembaga negara.
“Pengalaman di Partai Golkar mengajarkan saya bahwa politik pada akhirnya harus kembali kepada kepentingan rakyat dan kepentingan negara. Saya pernah berada di berbagai posisi dalam partai dengan kepemimpinan yang berbeda,” tuturnya.
Bamsoet juga menekankan pentingnya komunikasi dan sikap saling menghormati ketika menghadapi perbedaan pandangan politik.
“Dari sana saya memahami pentingnya menjaga komunikasi, menghormati perbedaan pandangan, dan mencari titik temu ketika kepentingan politik berhadapan dengan kepentingan kebangsaan,” lanjutnya.
Baca juga: Atase KBRI Tak Temukan Arsip Pendidikan Gibran dalam Sidang PHPU
Bamsoet Jadi Satu-satunya Anggota DPR Aktif di Wantimpres
Masuknya Bamsoet ke jajaran Wantimpres menjadikannya satu-satunya anggota DPR RI yang masih aktif dalam komposisi baru tersebut, berdasarkan keterangan dalam naskah ini.
Wantimpres 2026 terdiri atas tokoh dari berbagai latar belakang. Mereka berasal dari kalangan tokoh agama, akademisi, purnawirawan TNI dan Polri, pengusaha, mantan pejabat negara, profesional, hingga tokoh politik.
Sejumlah nama yang masuk dalam susunan tersebut antara lain Pratikno, Hatta Rajasa, Quraish Shihab, Agum Gumelar, Budi Gunawan, Chairul Tanjung, Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Staquf, Jusuf Wanandi, Jusuf Hamka, Tahir, Anwar Usman, dan Ignasius Jonan.
Bamsoet menilai keberagaman latar belakang tersebut dapat memperkaya perspektif dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden.
“Keberagaman latar belakang anggota Wantimpres justru menjadi kekuatan. Ada pengalaman pemerintahan, parlemen, militer, dunia usaha, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat sipil,” kata Bamsoet.
Menurutnya, seluruh anggota perlu mengolah pengalaman masing-masing menjadi masukan yang konstruktif.
Ia juga menilai Wantimpres harus mampu menyampaikan pandangan secara jernih. Terutama ketika suatu kebijakan membutuhkan koreksi atau penyempurnaan.
Bamsoet Raih Sejumlah Tanda Kehormatan Negara
Selain memiliki pengalaman politik dan parlemen, Bamsoet juga menerima sejumlah tanda kehormatan negara.
Pada 14 Agustus 2024, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana kepada Bamsoet. Penghargaan tersebut diberikan atas jasanya selama memimpin MPR RI periode 2019-2024.
Sekretariat Negara mencatat pemberian penghargaan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 105/TK/TH 2024 dan 108/TK/TH 2024.
Bamsoet menyebut penghargaan itu sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab. Ia juga mendedikasikannya kepada keluarga besar MPR dan seluruh pihak yang bekerja bersama menjalankan tugas kelembagaan.
Sebelumnya, pada 2020, Bamsoet menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo.
Sekretariat Negara mencatat namanya sebagai salah satu penerima tanda jasa dan tanda kehormatan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 52/TK/Tahun 2020.
Penghargaan tersebut berkaitan dengan pengabdiannya saat menjabat Ketua DPR RI periode 2018-2019.
Selain itu, Bamsoet juga menerima sejumlah penghargaan dan brevet kehormatan lainnya.
Beberapa di antaranya adalah Dharma Pertahanan Utama dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada 2023. Ia juga menerima Brevet Baret Ungu Korps Marinir sebagai Warga Kehormatan TNI AL.
Bamsoet turut memperoleh Brevet Wing Penerbang Kelas I Pesawat Tempur sebagai Warga Kehormatan TNI AU.
Penghargaan lainnya meliputi Brevet Hiu Kencana Satuan Kapal Selam sebagai Warga Kehormatan TNI AL, brevet Warga Kehormatan Brimob Polri, serta brevet Warga Kehormatan Badan Intelijen Negara (BIN).
“Berbagai penghargaan dan tanda kehormatan yang pernah saya terima tidak boleh dilihat sebagai tujuan akhir. Justru setiap penghargaan harus menjadi pengingat bahwa semakin besar kepercayaan yang diberikan negara, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan manfaat,” ujar Bamsoet.
Bamsoet Siap Beri Masukan kepada Presiden Prabowo
Kini, Bamsoet membawa pengalaman di parlemen, Partai Golkar, serta berbagai bidang, termasuk hukum, politik, keamanan, dan ekonomi ke dalam tugas barunya sebagai anggota Wantimpres.
Ia meyakini pengalaman sebagai Ketua DPR dan Ketua MPR dapat membantu memahami konsekuensi kebijakan pemerintah. Perspektif tersebut mencakup sudut pandang parlemen maupun masyarakat.
Bamsoet juga menegaskan bahwa kepentingan nasional akan menjadi pijakan utama dalam menjalankan amanah tersebut.
“Saya ingin menjalankan tugas ini dengan tetap berpijak pada kepentingan nasional. Masukan kepada Presiden harus berangkat dari data, konstitusi, kepentingan masyarakat dan kemampuan negara dalam melaksanakannya,” tegasnya.
Selain itu, ia menilai kebijakan yang sudah berjalan baik perlu terus diperkuat. Sementara kebijakan yang masih memiliki ruang perbaikan harus mendapatkan masukan secara terbuka dan konstruktif.
“Prinsipnya, Wantimpres harus menjadi bagian dari proses memperkuat kualitas pemerintahan dan pembangunan nasional,” pungkas Bamsoet.














