SUMENEP – Maharaya Festival 2026 menghadirkan konsep baru dalam pengembangan seni tari di Kabupaten Sumenep. Tidak hanya menampilkan pertunjukan sebagai hiburan, festival yang masuk dalam Sumenep Calendar of Event 2026 ini juga mengangkat tari sebagai media edukasi, pelestarian budaya, dan ruang lahirnya inovasi kreatif.
Gagasan tersebut diperkenalkan melalui forum Diksi Maharaya bertema “Menghormati Tari: Menjaga Martabat, Makna, dan Warisan Budaya” yang digelar pada Jumat (31/7/2026). Forum ini melibatkan pegiat seni, akademisi, perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), sanggar tari, hingga pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Sumenep.
Event Director Maharaya Festival, Nur Kholis, mengatakan festival ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan tari, tetapi juga memahami nilai budaya, sejarah, dan proses kreatif yang melahirkan sebuah karya.
“Kami merancang Maharaya sebagai event yang mengintegrasikan karya tari menjadi hiburan sekaligus objek pengetahuan. Jadi masyarakat tidak hanya menikmati hiburannya, tetapi juga memahami cerita, proses penciptaan, dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Menurutnya, konsep edukatif tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian Maharaya Festival. Selain pertunjukan tari, panitia juga menghadirkan forum diskusi yang mempertemukan koreografer, akademisi, budayawan, pelaku seni, dan generasi muda untuk berbagi pengetahuan mengenai perkembangan seni tari.
Jalan Raya Disulap Menjadi Panggung Seni
Salah satu keunikan Maharaya Festival 2026 adalah pemanfaatan jalan raya sebagai ruang pertunjukan. Konsep ini dipilih agar masyarakat dapat menikmati seni secara langsung di ruang publik tanpa harus datang ke gedung pertunjukan.
Nur Kholis menilai ruang publik mampu memperluas akses masyarakat terhadap seni sekaligus menciptakan interaksi yang lebih dekat antara penampil dan penonton.
“Maharaya menjadikan jalan raya sebagai fokus seluruh pertunjukan sekaligus ruang edukasi. Kami ingin seni hadir lebih dekat dengan masyarakat sehingga siapa pun dapat menikmati sekaligus belajar tentang tari di ruang publik,” katanya.
Sumenep Ingin Jadi Pelopor Tari Jalan Raya
Melalui Maharaya Festival, Kabupaten Sumenep juga berupaya menciptakan identitas baru dalam dunia seni pertunjukan. Tahun ini, para penata tari dan koreografer diajak menghasilkan karya yang secara khusus dirancang untuk dipentaskan di ruang terbuka, khususnya jalan raya.
Menurut Nur Kholis, langkah tersebut menjadi upaya menjadikan Sumenep sebagai daerah pertama yang mengembangkan konsep penciptaan karya tari berbasis ruang publik.
“Sumenep ingin mengambil momentum sebagai kabupaten pertama yang memulai penciptaan karya tari di jalan raya bersama para penata dan koreografer. Kami berharap konsep ini dapat menjadi identitas baru sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang terus berinovasi dalam pengembangan kebudayaan,” ungkapnya.
Menjaga Makna Tari di Era Digital
Dalam forum Diksi Maharaya, peserta juga membahas tantangan pelestarian seni tari di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif dan media digital. Kemajuan teknologi memang membuka peluang promosi yang lebih luas bagi para seniman, namun juga berpotensi mengurangi pemahaman terhadap makna budaya yang terkandung dalam sebuah karya tari.
Nur Kholis menegaskan bahwa penghormatan terhadap seni tari tidak cukup dilakukan melalui apresiasi saat pertunjukan berlangsung. Menurutnya, menjaga nilai budaya, proses kreatif, dan penghargaan kepada para pelaku seni merupakan bagian penting dalam melestarikan warisan budaya.
“Ketika sebuah tari kehilangan makna, konteks, dan penghargaan terhadap pelakunya, yang terancam bukan hanya sebuah pertunjukan, tetapi juga identitas budaya itu sendiri,” tegasnya.
Melalui konsep yang memadukan hiburan, edukasi, dan inovasi, Maharaya Festival 2026 diharapkan berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang melahirkan gagasan, karya kreatif, dan regenerasi pelaku seni, sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Sumenep sebagai salah satu pusat pengembangan seni dan budaya di Indonesia.
















