Konsep Mahabbah dalam Perspektif Rabi’ah al-Adawiyah: Pemahaman dan Aplikasinya

Ilustrasi seorang perempuan tengah berada di tepi pantai pada sore hari
Ilustrasi seorang perempuan tengah berada di tepi pantai pada sore hari

FALIHMEDIA.COM – Rabi’ah Al-Adawiyah atau Ummu al-Khair binti Ismail al-Adawiyah al-Qaisyiyah merupakan salah satu tokoh sufi perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Beliau lahir di Basrah, sekitar tahun 95 Hijriah (717 Masehi), dari keluarga sederhana yang hidup dalam kesalehan dan penuh ketakwaan.

Ayahnya, Ismail, dikenal sebagai sosok zuhud yang menghabiskan siang hari untuk bekerja dan malamnya untuk beribadah. Meskipun hidup dalam kemiskinan, keluarganya tidak pernah mengeluh. Mereka selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

Kisah Kelahiran Rabi’ah Al-Adawiyah

Dikisahkan oleh Fariduddin Al-Attar, saat kelahiran Rabi’ah, keluarga Ismail hidup dalam keadaan sangat miskin. Bahkan, mereka tidak memiliki sehelai kain untuk menyelimuti bayi yang baru lahir. Dalam keadaan itu, Ismail bermimpi bertemu Rasulullah SAW, yang menenangkan hatinya dengan sabda:

“Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung. Pengaruhnya akan diikuti oleh tujuh ribu umatku.”

Rasulullah juga memerintahkan Ismail untuk menemui seorang amir bernama Isa Zaidan dengan membawa surat yang berisi pesan dari beliau. Setelah membaca surat tersebut, sang amir terharu dan memberikan dua ribu dinar sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan atas kelahiran bayi yang kelak menjadi seorang sufi agung.

Masa Kecil Rabi’ah: Tumbuh dalam Kesederhanaan dan Iman

Rabi’ah tumbuh di tengah keluarga miskin, tetapi kaya akan nilai keimanan dan ketakwaan. Sejak kecil, ia sudah memperlihatkan kecintaan luar biasa kepada Allah SWT. Pada usia 10 tahun, Rabi’ah telah menghafal Al-Qur’an dengan penuh khusyuk dan memahami maknanya secara mendalam.

Ia sering mengikuti ayahnya ke musholla di pinggiran Basrah untuk beribadah dan bermunajat. Lingkungan inilah yang membentuk jiwanya menjadi lembut, sabar, dan dekat dengan Sang Khalik.

Setelah ayah dan ibunya wafat, Rabi’ah menjalani hidup mandiri bersama saudara perempuannya. Ia bekerja keras menyeberangi Sungai Dijlah menggunakan sampan untuk mencari nafkah. Dari kehidupan yang berat itulah muncul kekuatan spiritual yang kelak menjadikannya dikenal sebagai Rabi’ah Al-Adawiyah, sufi perempuan pencetus konsep mahabbah (cinta ilahi).

Konsep Mahabbah Menurut Rabi’ah Al-Adawiyah

Mahabbah dalam tasawuf berarti cinta yang murni dan mendalam kepada Allah SWT — cinta tanpa pamrih, tidak karena takut neraka atau mengharap surga. Rabi’ah memandang bahwa ibadah sejati harus lahir dari cinta tulus kepada Allah semata.

Pernyataan terkenalnya yang menjadi dasar ajarannya berbunyi:

“Aku tidak mencintai-Mu karena takut neraka, dan bukan pula karena mengharap surga. Aku mencintai-Mu karena Engkau layak dicintai.”

Rabi’ah menolak segala bentuk ibadah yang dilakukan demi imbalan duniawi atau ganjaran akhirat. Baginya, cinta sejati kepada Allah adalah tujuan akhir dari perjalanan spiritual seorang hamba.

Konsep mahabbah ini kemudian menginspirasi banyak sufi besar seperti Jalaluddin Rumi dan Al-Hallaj, yang mengembangkan gagasan cinta ilahi dalam karya-karya mereka.

Manifestasi Cinta Ilahi dalam Kehidupan Rabi’ah Al-Adawiyah

Perjalanan spiritual Rabi’ah diwarnai dengan maqamat (tingkatan-tingkatan spiritual) yang menjadi ciri khas para sufi. Manifestasi cinta ilahi atau mahabbah dalam kehidupannya tampak melalui enam sikap utama berikut:

1. Taubat (Pertobatan)

Rabi’ah menilai taubat sebagai langkah awal mendekatkan diri kepada Allah. Ia berpendapat bahwa setiap hamba harus selalu menyesali dosa dan berusaha memperbaiki diri.
Dalam syairnya, Rabi’ah menulis:

“Ya Allah, semua jerih payahku dan semua hasratku hanyalah untuk mengingat-Mu. Di akhirat nanti, kebahagiaanku adalah berjumpa dengan-Mu.”

2. Wara’ (Berhati-hati terhadap Dosa)

Rabi’ah memandang wara’ sebagai sikap menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan, baik dalam hal makanan, harta, maupun perbuatan. Ia berdoa:

“Tuhanku, tenggelamkan diriku dalam lautan keikhlasan mencintai-Mu hingga tiada yang menyibukkanku selain berdzikir kepada-Mu.”

3. Zuhud (Meninggalkan Duniawi)

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Dalam syairnya, ia menulis:

“Ya Allah, apa pun yang Engkau karuniakan di dunia, berikanlah kepada musuh-Mu. Dan apa pun di akhirat, berikanlah kepada sahabat-Mu. Engkau, cukuplah bagiku.”

4. Sabar (Kesabaran)

Kesabaran bagi Rabi’ah adalah ujian cinta sejati. Ia berkata:

“Ya Illahi Rabbi, walau Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan tetap menanti di depannya, karena hatiku telah terpaut pada-Mu.”

5. Tawakkal (Berserah Diri)

Tawakkal adalah puncak keimanan, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berusaha.
Rabi’ah menulis:

“Semua jerih payahku hanyalah untuk mengingat Engkau, dan di akhirat nanti, kesenanganku adalah berjumpa dengan-Mu.”

6. Ridha (Keridhaan)

Ketika ditanya tentang ridha, Rabi’ah menjawab bahwa seorang mukmin sejati merasa sama bahagianya antara menerima nikmat dan menghadapi ujian.
Ia menulis:

“Ya Tuhan, lenganku telah patah dan aku menanggung penderitaan. Namun aku masih bertanya-tanya, apakah Engkau ridha padaku, Ya Allah?”

Warisan Spiritual Rabi’ah Al-Adawiyah

Ajaran mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah meninggalkan warisan besar bagi dunia tasawuf. Melalui kehidupan yang sederhana, penuh ibadah, dan cinta murni kepada Allah, ia menjadi simbol spiritualitas Islam yang abadi.

Banyak peneliti Barat seperti Margaret Smith, Louis Massignon, dan Nicholson menulis karya ilmiah tentangnya. Mereka mengakui bahwa pemikiran Rabi’ah memperkenalkan wajah Islam yang penuh kasih, lembut, dan universal.

Rabi’ah Al-Adawiyah adalah contoh nyata bahwa cinta kepada Allah dapat mengubah penderitaan menjadi ketenangan jiwa. Melalui taubat, wara’, zuhud, sabar, tawakkal, dan ridha, ia menunjukkan bagaimana mahabbah bisa dihidupkan dalam keseharian seorang mukmin.

Ajaran Rabi’ah tetap relevan hingga kini — mengajarkan manusia untuk mencintai Allah tanpa pamrih, beribadah dengan hati yang tulus, dan menjadikan cinta ilahi sebagai puncak kehidupan spiritual.

 

*Penulis Fatimatus Zahrah (Pamekasan), Fakultas Ushuluddin, Prodi: Aqidah Filsafat, Universitas Al-Amien Prenduan Sumenep

 

“Redaksi FalihMedia menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi FalihMedia”

Baca berita lainnya di Google News dan WhatsApp Channel
atau Telegram Channel

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *