Langkah Arga terhenti di depan sebuah gedung megah yang dipenuhi hiasan bunga. Dari kejauhan, ia mendengar riuh tawa para tamu dan denting musik pernikahan yang mengalun meriah. Pesta itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi pengantin wanita. Namun bagi Arga, pesta itu justru seperti lonceng kematian bagi cintanya.
Hari ini, Naya menikah.
Bukan dengannya.
Ingatannya kembali pada sore-sore di taman kecil dekat sekolah dulu. Saat itu, Naya duduk bersamanya, mengusap rambut panjang yang jatuh menutupi wajah.
“Ga, kalau suatu hari nanti orang tuaku nggak setuju sama kita, kamu masih mau berjuang?” tanya Naya, menatapnya dengan mata berair.
Arga menggenggam tangannya erat. “Selama kamu mau, Nay, aku akan tetap di sini. Sehidup semati, kan?”
Naya tersenyum, meski matanya masih basah. “Iya… sehidup semati.”
Janji itu bukan main-main. Mereka melaluinya bersama: bertahun-tahun belajar, bekerja paruh waktu, hingga bermimpi punya rumah kecil sederhana. Naya pernah berkata, ia tak butuh kemewahan, hanya butuh Arga.
Namun, semuanya berubah ketika keluarganya menuntut.
Hari itu, di sebuah warung kopi sederhana, Naya datang dengan wajah pucat. Jemarinya gemetar saat menggenggam cangkir panas.
“Ga…,” suaranya lirih, “ayahku sudah memilihkan calon suami untukku.”
Arga membeku. “Apa maksudmu? Kita sudah berencana, Nay. Tinggal sedikit lagi aku kumpulkan tabungan. Kita bisa menikah.”
Air mata Naya jatuh ke meja. “Aku sudah coba melawan. Tapi… aku nggak sanggup. Mereka bilang aku durhaka kalau menolak. Aku lelah, Ga… aku harus patuh. Maafkan aku.”
“Patuh? Dengan mengorbankan janji kita?” suara Arga meninggi, tapi lebih karena luka daripada amarah.
Naya menunduk. “Aku tetap mencintaimu. Tapi cinta nggak cukup buat melawan dunia. Aku mohon, jangan benci aku.”
Kata-kata itu menghancurkan seluruh benteng yang Arga bangun selama ini. Ia ingin marah, ingin menahan, ingin memaksa. Tapi ia tahu—tidak ada daya melawan keputusan keluarga Naya.
Kini, dari kejauhan, Arga melihat sosok Naya berjalan anggun dengan gaun pengantin putih. Senyumnya terpajang, meski Arga tahu betul itu bukan senyum bahagia. Tepuk tangan bergemuruh, doa-doa kebaikan dilantunkan.
Namun di balik tirai pesta, mata Naya sempat mencari—dan sesaat bertemu dengan mata Arga. Hanya sekilas, tapi cukup untuk mengatakan segalanya. Ada luka, ada rindu, ada cinta yang tak bisa diucapkan.
Arga menunduk, menahan air mata yang hampir pecah. Baginya, Naya tetaplah rumah, meski kini rumah itu bukan lagi untuknya.
Ia berjalan menjauh, meninggalkan keramaian. Suara musik makin lama makin sayup. Langkahnya terasa berat, seolah ia menyeret kenangan yang tak mau lepas.
Dalam hati, ia berbisik lirih,
“Mungkin beginilah takdirku… mencintaimu tanpa pernah memiliki. Menjadi kekasih bayangan, hidup hanya di sisa-sisa kenangan.”
Dan di kamar pengantin yang sepi, Naya duduk menatap cermin. Gaun putih itu terasa seperti belenggu. Tangannya menyentuh dada, merasakan detak jantung yang masih berirama dengan nama Arga. Air mata jatuh, membasahi wajah yang dipaksa tersenyum sepanjang hari.
“Maafkan aku, Ga… Aku tetap milikmu, meski hanya di dalam doa.”
Mereka berdua kini terpisah oleh takdir, namun hatinya tetap saling menggenggam—meski hanya sebagai bayangan.
*) Oleh: Tim Falih Media







