SUMENEP – Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, tak hanya dikenal sebagai salah satu sentra garam rakyat di Madura. Pemerintah desa setempat kini juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan untuk membuka peluang penghasilan tambahan bagi warga.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni pelatihan menjahit bagi kaum ibu yang difasilitasi Balai Pelatihan Kerja (BLK) Jawa Timur pada 2026. Program tersebut disambut positif karena dinilai dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga, terutama ketika produksi garam memasuki masa jeda.
Kepala Desa Karanganyar, H. Soeharto Hadi, melalui Sekretaris Desa Massuri, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Menurutnya, keterampilan menjahit bisa menjadi bekal bagi ibu-ibu untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar sektor garam.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dengan adanya pelatihan menjahit bagi ibu-ibu ini, karena sangat membantu untuk menambah penghasilan keluarga, tidak hanya mengandalkan musim garam saja,” ujarnya.
Massuri menjelaskan, sebelumnya sempat ada tawaran program pelatihan keterampilan yang menyasar kalangan remaja. Namun, rencana tersebut belum dapat diikuti secara optimal lantaran berbenturan dengan aktivitas warga saat musim panen garam.
“Waktunya pas musim kemarau, banyak remaja dan warga yang kerja panen garam. Jadi fokusnya ke tambak dulu,” jelasnya.
Karanganyar, Salah Satu Sentra Garam Produktif di Sumenep
Aktivitas usaha garam menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Desa Karanganyar. Tingginya etos kerja warga tercermin dari kemampuan mereka mengelola lahan tambak garam dalam skala cukup luas.
Massuri menyebut, jika di sejumlah daerah satu keluarga umumnya menggarap sekitar satu hektare lahan garam, di Karanganyar terdapat keluarga yang mampu mengelola hingga tiga hektare.
Data Pemetaan Lahan Garam Jawa Timur yang dikutip dalam bahan pemberitaan mencatat luas tambak garam di Desa Karanganyar mencapai 636,3 hektare, dengan produksi sekitar 47.485 ton per musim. Angka tersebut menempatkan Karanganyar sebagai desa dengan produktivitas garam tertinggi kedua setelah Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget.
Produktivitas tersebut turut didukung kondisi alam, mulai dari iklim tropis dan angin kering hingga karakteristik tanah aluvial hidromorf bertekstur lempung. Kondisi tersebut disebut mendukung proses produksi garam dengan kualitas KP1 yang memiliki nilai jual lebih baik.
Pelatihan Menjahit Jadi Alternatif Saat Musim Hujan
Meski sektor garam memberikan kontribusi ekonomi yang besar, masyarakat Karanganyar tetap menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada musim produksi.
Dalam setahun, aktivitas produksi garam berlangsung sekitar empat hingga lima bulan pada musim kemarau. Ketika musim penghujan tiba, petani tidak dapat menjalankan produksi seperti biasanya sehingga dibutuhkan sumber penghasilan alternatif.
Massuri menilai, kondisi ekonomi masyarakat Karanganyar selama ini relatif baik. Ia menggambarkan peningkatan kesejahteraan warga melalui kondisi tempat tinggal dan perkembangan usaha masyarakat.
“Penghasilan masyarakat lumayan bagus. Buktinya, hampir tidak ada lagi masyarakat di sini yang punya rumah gedeg. Bahkan sebagian warga kami yang membuka usaha toko-toko di Jakarta rata-rata sudah milik sendiri,” tambahnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Pemerintah Desa Karanganyar mendorong diversifikasi ekonomi melalui pelatihan keterampilan, termasuk menjahit bagi kaum ibu.
Program ini diharapkan dapat membuka peluang usaha rumahan, menambah sumber pendapatan keluarga, sekaligus membantu masyarakat tetap produktif saat aktivitas tambak garam berhenti sementara.
Dengan pengembangan keterampilan dan diversifikasi usaha, Desa Karanganyar berupaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada hasil panen garam. Pemberdayaan warga pun menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan kesejahteraan desa, baik pada musim kemarau maupun musim penghujan.













