FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Ribuan santri di Kabupaten Sumenep memberikan kehormatan kepada Achmad Fauzi Wongsojudo dengan gelar Panglima Santri Milenial Sumenep. Penobatan tersebut dilakukan dalam acara istigasah menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pada Minggu, 20 Oktober 2024, di Gedung Islamic Center Batuan, Sumenep.
Penghargaan dari Santri untuk Sosok Peduli Pendidikan Islam
Ketua Santri Milenial Sumenep, Febrianto, menjelaskan bahwa gelar ini diberikan sebagai bentuk penghargaan atas perhatian dan kepedulian Achmad Fauzi terhadap dunia pesantren dan para santri.
Fauzi, politisi muda dari PDI Perjuangan sekaligus calon Bupati Sumenep periode 2024–2029 bersama KH Imam Hasyim (Pengasuh Pondok Pesantren Attaufikiyah Bluto), dikenal dekat dengan para ulama dan kalangan santri.
“Walau beliau bukan santri, kepedulian Bapak Fauzi terhadap santri sangat luar biasa. Beliau telah menginisiasi program beasiswa santri dan penghargaan untuk santri berprestasi,” ungkap Febrianto, Senin (21/10/2024).
Kepedulian terhadap Guru Ngaji di Sumenep
Tak hanya fokus pada santri, Achmad Fauzi juga dikenal peduli terhadap kesejahteraan guru ngaji di Kabupaten Sumenep. Selama masa kepemimpinannya sebagai bupati, ribuan guru ngaji telah mendapatkan insentif dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
“Lebih dari 6.000 guru ngaji menerima insentif dari pemerintah Kabupaten Sumenep. Bagi kami, guru ngaji adalah sosok penting dalam pendidikan Islam. Program ini tak lepas dari perhatian Pak Fauzi,” tambah Febrianto.
Komitmen Fauzi sebagai Panglima Santri Milenial
Dalam sambutannya, Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan rasa syukur dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Menurutnya, gelar Panglima Santri Milenial bukan sekadar penghormatan, tetapi juga panggilan untuk terus berjuang bersama santri.
“Menerima gelar ini bukan hal ringan. Saya akan berupaya menjalankan amanah ini sebaik mungkin. Santri memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa,” ujarnya.
Fauzi juga mengajak santri masa kini untuk terus berperan aktif dalam pembangunan dan kemajuan bangsa.
“Santri harus menjadi bagian dari perubahan positif di masyarakat, khususnya di Kabupaten Sumenep. Jika kembali diberi amanah sebagai bupati, saya akan terus mendukung program yang menyentuh langsung kehidupan santri dan guru ngaji,” tegasnya.














