SUMENEP – Krisis listrik yang melanda wilayah Giligenting, Kabupaten Sumenep, semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat serta mengganggu berbagai layanan publik.
Pemadaman listrik yang terjadi berulang dengan durasi panjang membuat aktivitas warga nyaris lumpuh. Sejumlah pelaku usaha kecil mengaku mengalami kerugian akibat pasokan listrik yang tidak stabil.
Usaha seperti toko kelontong, jasa fotokopi, penjual es, hingga pengolahan hasil laut terpaksa menghentikan operasional saat listrik padam. Kondisi ini berdampak langsung pada produksi dan pendapatan harian masyarakat.
“Kalau listrik sering mati, kami tidak bisa mendapatkan es untuk ikan. Akibatnya hasil tangkapan cepat rusak,” ujar Ketua Kelompok Nelayan Berru Mandiri, Suhaemli, Sabtu (11/4/2026).
Selain sektor ekonomi, gangguan listrik juga melemahkan akses komunikasi dan internet. Warga kesulitan berkoordinasi, mengakses informasi, hingga melakukan transaksi digital yang kini semakin umum digunakan.
Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas pendidikan dan keagamaan, termasuk kegiatan anak-anak mengaji yang terganggu akibat pemadaman listrik.
Masyarakat Giligenting berharap pemerintah dan pihak penyedia listrik segera menghadirkan solusi konkret, seperti peningkatan infrastruktur kelistrikan atau penambahan sumber energi alternatif agar pasokan listrik lebih stabil.
“Kami butuh kepastian. Jangan sampai kondisi ini terus berlarut-larut karena dampaknya sangat besar bagi kehidupan masyarakat,” tegas Jatim warga setempat.
Hingga kini, warga masih bertahan di tengah ketidakpastian pasokan listrik. Mereka berharap langkah cepat segera diambil agar aktivitas ekonomi dan layanan publik dapat kembali berjalan normal.














