JAKARTA – Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, melaporkan kepada Presiden Donald Trump bahwa gelombang serangan udara terhadap target militer Iran di sekitar Selat Hormuz sudah tidak lagi memberikan hasil yang signifikan.
Laporan yang pertama kali diungkap Axios dan dikutip Russia Today pada Selasa (28/7/2026) menyebutkan Cooper menilai militer Amerika Serikat telah menghancurkan hampir seluruh sasaran utama yang sebelumnya masuk dalam daftar operasi di wilayah selatan Iran.
Menurut Cooper, operasi udara lanjutan tidak akan memberikan dampak strategis apabila Washington tidak memutuskan untuk kembali menggelar operasi tempur berskala besar.
Baca juga: Iran Tunda Pertemuan dengan AS di Swiss, Negosiasi Gencatan Senjata Tunggu Persyaratan Terpenuhi
“Target pemboman yang ditentukan di area tersebut sebagian besar telah habis dihantam. Tidak ada gunanya melanjutkan serangan kecuali AS kembali ke operasi tempur skala besar,” ujar Cooper kepada Presiden Donald Trump.
Tak lama setelah menerima laporan tersebut, Presiden Trump memutuskan menghentikan kampanye serangan udara pada Jumat lalu. Keputusan itu sekaligus mengakhiri operasi pemboman yang berlangsung selama 13 hari.
Langkah tersebut muncul ketika sejumlah mediator regional berupaya membuka kembali jalur diplomasi guna mencapai kesepakatan gencatan senjata baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca juga: Medvedev Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei, Tegaskan Iran Akan Menang Hadapi AS
Sejumlah media Amerika Serikat juga melaporkan bahwa Trump mempertimbangkan kondisi persediaan rudal pencegat yang digunakan untuk menghadapi serangan balasan rudal maupun drone Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, Trump membantah anggapan bahwa militer negaranya mengalami kekurangan amunisi.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz masih belum kembali normal. Jalur pelayaran strategis dunia itu tetap tertutup bagi aktivitas pelayaran komersial reguler meskipun militer AS telah menyerang sejumlah fasilitas pelabuhan dan instalasi militer Iran di wilayah selatan.
Sebelumnya, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade maritim terhadap Iran setelah terjadi serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut.
Baca juga: Israel Serang Iran Barat dan Tengah, Ledakan Terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan
Pada 26 Juni 2026, pemerintah Iran menegaskan bahwa kapal hanya boleh melintas melalui jalur pelayaran yang telah ditetapkan Teheran. Media lokal kemudian melaporkan sebuah kapal tanker minyak meledak setelah menabrak ranjau laut karena keluar dari rute navigasi resmi. Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang tercapai pada April 2026 dan kemudian diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026 praktis sudah tidak lagi berlaku.
Perselisihan mengenai isi MoU memicu kembali meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Pemerintah Iran tetap mempertahankan klaim bahwa mereka memiliki hak penuh mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz serta menilai jalur pelayaran yang ditetapkan Angkatan Laut Amerika Serikat tidak memiliki dasar hukum.
















