FALIHMEDIA.COM – Gendang politik kembali ditabuh. Setelah pemilu serentak pada Februari 2024, kini Indonesia bersiap menghadapi Pilkada serentak nasional pada 27 November 2024. Pada pesta demokrasi ini, masyarakat akan memilih Gubernur, Wali Kota, dan Bupati beserta wakilnya di seluruh daerah.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Pilkada suasana di berbagai daerah mulai semarak. Dari kota hingga pelosok desa, baliho calon kepala daerah dan atribut partai politik mulai menghiasi jalanan. Euforia politik terasa di mana-mana.
Pilkada: Ajang Demokrasi Lima Tahunan
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan calon (paslon) resmi peserta Pilkada. Ajang ini menjadi kompetisi politik terbuka, di mana setiap calon bersiap lahir batin untuk merebut kepercayaan rakyat.
Sebagai pemilih, masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab untuk menentukan pilihan terbaik. Harapannya, calon yang terpilih benar-benar mampu membawa kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
Tantangan dan Pusaran Dukungan Politik
Pilkada merupakan pertaruhan besar bagi setiap calon. Mereka harus mampu mengumpulkan dukungan dari partai politik dan masyarakat. Di sisi lain, tim sukses memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan edukasi politik, agar masyarakat tidak golput dan menolak segala bentuk kecurangan.
KPU dan Bawaslu telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari verifikasi data pemilih hingga simulasi pencoblosan. Semua itu dilakukan agar pelaksanaan Pilkada berjalan aman, damai, dan jujur sesuai peraturan.
Namun, potensi kerawanan dan kecurangan tetap ada. Terkadang muncul akibat oknum yang tidak bertanggung jawab dan ingin merusak proses demokrasi. Karena itu, pemilih diharapkan lebih cerdas dan kritis, agar tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik sesaat.
Jadilah Pemilih Cerdas dan Bijak
Masyarakat perlu menilai calon pemimpin berdasarkan rekam jejak dan kinerjanya, bukan sekadar janji. Pemilih cerdas akan mempertimbangkan apakah calon tersebut memiliki komitmen, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada rakyat.
Kerawanan politik sering muncul akibat fanatisme berlebihan. Perbedaan dukungan sering memecah hubungan antarwarga, bahkan antar tokoh masyarakat dan kalangan pesantren. Padahal, berbeda pilihan adalah hal wajar dalam demokrasi.
Hindari Politik Uang dan Hoaks
Pilkada selalu berlandaskan asas Luber dan Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil). Karena itu, pemilih diimbau untuk tidak tergoda politik uang, bantuan sosial, atau iming-iming sesaat yang sering dijadikan alat politik.
Di era digital, masyarakat juga perlu waspada terhadap berita bohong (hoaks) yang bisa menyesatkan opini publik. Informasi palsu sering digunakan untuk menjatuhkan lawan politik. Maka, penting bagi pemilih untuk menyaring informasi dengan bijak.
Calon Pemimpin Harus Dekat dengan Rakyat
Menjelang Pilkada, para calon biasanya turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan sosial, keagamaan, kepemudaan, dan ekonomi. Strategi ini dikenal sebagai “blusukan”, yang menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara calon dan warga.
Calon pemimpin yang baik harus bisa merangkul semua golongan, termasuk petani, nelayan, pemuda, dan pelaku UMKM. Mereka diharapkan mampu membangun daerah dengan adil dan terbuka, tanpa diskriminasi.
Netralitas Aparatur Negara Sangat Penting
Dalam setiap Pilkada, netralitas ASN, TNI, POLRI, dan pejabat pemerintahan menjadi kunci utama. Aparatur negara tidak boleh terlibat dalam politik praktis atau mendukung salah satu calon. Hal ini penting untuk menjaga citra birokrasi yang bersih dan profesional.
Jika birokrasi digunakan untuk kepentingan politik, maka kekuasaan justru akan menjadi beban bagi kemajuan daerah.
Mari Kawal Pilkada 2024 dengan Damai
Masyarakat harus ikut aktif mengawal Pilkada agar berlangsung jujur dan adil. Gunakan hak suara dengan bijak, jangan golput. Pemimpin yang amanah, adil, dan bersih hanya bisa lahir dari rakyat yang berani menolak politik kotor.
Gunakan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan edukasi positif bagi pemilih, terutama pemilih pemula. Mari bersama menjaga Pilkada agar sukses tanpa kecurangan.
Suara rakyat adalah suara Tuhan. Siap menang, siap kalah — itulah wujud demokrasi sejati.
*) Oleh: Hanafi, S.Pd.I : Pengajar di MTs. Al-Hasan dan Penggiat Literasi Pengurus “TBM Somber Elmo” Kampung Sumber Gedugan Giligenting Sumenep
*) Tulisan Puisi ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi falihmedia.com














