FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat tata kelola pariwisata melalui program integrasi Service Dominant Logic (SDL) di wilayah kepulauan.
Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat BRIDA ini dipimpin langsung oleh Kepala BRIDA Sumenep, Benny Irawan.
Dalam keterangannya, Benny menjelaskan bahwa BRIDA Sumenep telah melakukan penelitian kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang akurat dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
“Kami ingin memastikan setiap kebijakan yang diambil pemerintah daerah benar-benar berlandaskan data empiris dan hasil riset yang valid,” ujar Benny.
Ia menambahkan, sektor pariwisata di Sumenep, khususnya di wilayah kepulauan, memerlukan pendekatan berbasis data agar pengembangannya lebih terarah dan berkelanjutan.
Menurutnya, diskusi mendalam seperti FGD ini menjadi langkah penting untuk merumuskan strategi yang efektif dalam meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
“Kegiatan seperti ini akan terus kami lakukan secara berkelanjutan hingga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret untuk mendukung pembangunan pariwisata berbasis data,” jelasnya.
BRIDA juga berkomitmen agar hasil penelitian, baik yang dilakukan secara internal maupun bekerja sama dengan pihak ketiga, dapat memberikan manfaat langsung bagi pemerintah daerah dalam mengambil keputusan strategis.
“Kami tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga akan menindaklanjutinya dengan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata terhadap pengembangan pariwisata di Kabupaten Sumenep,” tegas Benny.
FGD yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut dihadiri oleh berbagai unsur, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, perwakilan kecamatan, serta pengelola desa wisata di kepulauan.
Para peserta tampak antusias menyampaikan gagasan dan pengalaman mereka terkait pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.
Sementara itu, Perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumenep, Herman Wahyudi, menekankan pentingnya memperluas konsep branding pariwisata, tidak hanya berfokus pada destinasi fisik.
“Branding pariwisata tidak cukup berhenti di promosi tempat wisata saja, tetapi juga harus mencakup pelaku usaha lokal seperti UMKM dan warga sekitar. Mereka perlu dibekali kemampuan pelayanan yang baik agar wisatawan memperoleh pengalaman positif,” ungkap Herman.
Dengan adanya FGD ini, diharapkan tata kelola pariwisata di Sumenep, terutama di kawasan kepulauan, dapat semakin kuat, terarah, dan berdaya saing tinggi melalui kebijakan yang berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor.














