FALIHMEDIA.COM – Setiap tahun, momen kelulusan siswa dari jenjang SMP, SMA, hingga SMK selalu menjadi sorotan masyarakat. Baik di kota maupun di desa, fenomena ini kerap memunculkan beragam perilaku remaja yang memancing perhatian publik.
Remaja sejatinya merupakan tulang punggung bangsa dan agama. Mereka memiliki karakter khas — kreatif, dinamis, inovatif, mudah belajar, dan cepat beradaptasi. Karena itu, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa kemajuan bagi bangsa dan masyarakat.
Namun, realitas sosial menunjukkan hal berbeda. Setiap tahun, setelah pengumuman kelulusan, masih sering dijumpai tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh pelajar. Misalnya, corat-coret seragam sekolah, konvoi kendaraan secara ugal-ugalan, mabuk-mabukan, bahkan tindakan asusila. Fenomena ini jelas menodai makna kelulusan dan mencederai nilai pendidikan itu sendiri.
Perilaku Remaja yang Menyimpang Saat Kelulusan
Tindakan seperti mencorat-coret seragam, balapan liar, hingga pesta narkoba tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga aturan hukum dan agama. Dengan alasan apa pun, perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan.
-
Melanggar peraturan sekolah (kode etik) – Tidak ada lembaga pendidikan yang membolehkan tindakan merusak atau mengotori seragam sebagai bentuk ekspresi kelulusan.
-
Melanggar aturan lalu lintas – Konvoi berlebihan dan kebut-kebutan jelas mengganggu keselamatan pengguna jalan lainnya.
-
Bertentangan dengan ajaran agama – Setiap tindakan yang merusak diri atau merugikan orang lain dilarang dalam ajaran Islam.
-
Tidak sesuai dengan norma masyarakat – Perilaku demikian mencoreng citra pelajar dan menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap nilai sosial.
Dari sisi manfaat dan mudarat, sudah jelas bahwa perilaku tersebut lebih banyak membawa kerugian. Akan jauh lebih baik jika seragam sekolah disumbangkan kepada adik kelas yang membutuhkan, atau diisi dengan kegiatan tasyakuran dan doa bersama sebagai bentuk syukur atas kelulusan.
Krisis Teladan dan Pengaruh Budaya Populer
Perkembangan zaman dan derasnya arus informasi menjadikan remaja semakin mudah terpengaruh oleh budaya populer. Banyak di antara mereka yang lebih mengidolakan artis dan selebritas dengan gaya hidup mewah dan bebas, dibandingkan tokoh-tokoh teladan yang berilmu dan berakhlak.
Akibatnya, sebagian remaja kehilangan arah ideologis dan cenderung meniru perilaku yang tidak sesuai dengan nilai moral. Kondisi ini memperparah munculnya tindakan negatif setiap kali momentum kelulusan tiba.
Pentingnya Peran Sekolah, Orang Tua, dan Tokoh Teladan
Beberapa sekolah kini mulai mengambil langkah preventif dengan menggelar kegiatan positif seperti mencuci kaki orang tua, doa bersama, atau kegiatan sosial. Tujuannya, agar siswa menyalurkan euforia kelulusan ke arah yang bermanfaat.
Meski begitu, pengawasan dan peran orang tua tetap sangat penting. Orang tua perlu memberikan kontrol dan bimbingan yang tegas agar anak tidak terjerumus pada perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sekolah pun harus terus memberikan edukasi tentang nilai moral dan disiplin. Begitu juga aparat keamanan — perlu bersikap tegas terhadap pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum.
Selain itu, remaja membutuhkan sosok panutan yang layak diteladani. Dalam Islam, Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya — seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali — merupakan contoh sempurna dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak. Begitu pula tokoh-tokoh Islam di Nusantara seperti Wali Songo dan ilmuwan Indonesia yang patut dijadikan inspirasi.
Jika teladan seperti ini ditanamkan sejak dini, maka perilaku remaja akan terbentuk dengan baik dan kemungkinan terjadinya penyimpangan sosial akan berkurang.
Kesimpulan
Fenomena negatif yang muncul setiap kelulusan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga masyarakat, orang tua, dan pemerintah. Dibutuhkan kerja sama dan ketegasan bersama untuk menekan perilaku destruktif di kalangan remaja.
“Kontrol sosial, keteladanan, dan penegakan aturan adalah kunci untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter dan berakhlak,” tutup penulis.
*) Oleh: HANAFI, Pengajar (guru swasta) di MTs. Al-Hasan Gedugan Giligenting Sumenep dan Pemerhati Pendidikan
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi falihmedia.com





