Resensi Buku Sarah: Perempuan Penggengam Cinta

Judul Buku : Sarah: Perempuan Penggenggam Cinta
 
Pengarang : Sinta Yudisia
 
Penerbit : Gema Insani
 
Tahun Terbit : 2017
 
Jumlah Halaman : 232 halaman
 
Resensator : Mutmainnah (Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia IAIN Pamekasan)
 
Sinopsis Buku
Buku ini menceritakan salah seorang wanita hebat dalam sejarah Islam, Sarah. Perempuan yang termasyur karna kecantikannya, keluhuran budinya dan kesalihannya. Kesetiaan, ketulusan dan kecintaannya kepada Ibrahim a.s. Juga layak untuk di teladani bagi semua perempuan di dunia ini.
 
Buku ini menceritakan kisah hidup Sarah beserta asal usulnya, pertemuannya dengan Ibrahim a.s, perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku mendampingi dakwah Ibrahim a.s. hingga akhir hayatnya. Begitu banyak versi muncul tentang waktu dan asal-usul kelahiran Sarah. Namun diperkirakan Sarah lahir tahun 2156 SM atau 1987 SM atau 1921 SM.
 
Sarah lahir dari keluarga bangsawan. Sarah merupakan puteri dari Raja Carrhae. Sarah kecil di panggil dengan sebutan “Yiscah” yang berarti “melihat” artinya pemilik nama ini dianggap mampu melihat/mengerti sesuatu lebih dalam dan lebih awal dari pada yang lain atau kaumnya menyebutnya Sarai yang berarti “Putri Kami”.
 
Sarah bagaikan permata di keluarganya dan panutan bagi kaumnya bukan semata karena kecantikan wajahnya yang memukau semua orang yang melihatnya tetapi juga karena keluhuran budi dan akhlaknya, ketangguhannya dan sikapnya yang pantang menyerah. Layaklah sebutan ‘Sang Penggenggam Cinta’ disematkan dalam judul buku ini untuk menggambarkan betapa kemulian Sarah mampu menumbuhkan kecintaan luar biasa dari orang-orang disekitarnya.
 
Sebagai seorang putri Raja, Sarah sangat peduli dengan keadaan kaumnya pada saat itu dimana perempuan sangat tidak dihargai dan diperlakukan dengan tidak pantas. Sarah juga haus akan ilmu dan ingin terus belajar.
 
Dalam perjalannya inilah Sarah bertemu dengan Ibrahim a.s. Anak dari Terakh sang pembuat berhala kepercayaan Raja Namrud, dan Amlathai. Meskipun terlahir dari keluarga pembuat berhala, Ibrahim a.s menolak untuk ikut menyembah berhala sebagaimana orang tua dan kaumnya.
 
Ibrahim a.s. terus mencari keberadaan Allah dan meyakinkan orang tua dan kaumnya untuk menyembah Allah. Ketika Ibrahim a.s. dan keluarganya pindah ke Ur Chaldean karena bencana kekeringan, Ibrahim a.s. memutuskan untuk meminang Sarah, Puri Raja Carrhae untuk mendukung dakwahnya.
 
Mendengar sosok Ibrahim a.s. yang memiliki visi yang kurang lebih sama dengan Sarah, Sarah menerima pinangan Ibrahim a.s. dan sejak saat itu mereka memulai perjalanan rumah tangga bersama.
 
Cinta dan kesetian Sarah kepada Ibrahim a.s. terus diuji di masa- masa terjal Ibrahim a.s. dalam berdakwah. Ibrahim a.s. harus berlawanan pendapat dengan kedua orang tuanya sendiri, Terakh dan Amlathai serta kaumnya yang telah lama menyembah berhala.
 
Hal ini pun juga ditentang oleh Raja Namrud yang kemudian memerintahkan supaya Ibrahim a.s. dibakar selama 40 hari, tetapi dengan kuasa Allah Ibrahim a.s. selamat dari ujian itu. Sarah juga membantu Luth a.s., yang merupakan keponakan Ibrahim a.s. dalam dahwahnya yang ditentang kaum Sodom.
 
Masa sulit selanjutnya adalah ketika Sarah harus mempertahankan kehormatannya dan suaminya ketika Fir’ aun hendak menodainya. Sarah bersedia mengikuti skenario yang telah dibuat oleh Ibrahim a.s. untuk mempertahankan dakwah. Sarah terpaksa bersedia menemui Fir’aun yang keji tersebut. Namun dengan kuasa Allah, Fir’aun tersebut tak berdaya di depan Sarah. Sejak saat itu mereka mendapatkan sedikit dukungan dari Fir’aun. Sarah juga diberi seorang hamba sahaya bernama Hajar.
 
Cobaan terberat yang dialami Sarah dan Ibrahim a.s. adalah ketika Sarah dan Ibrahim tak kunjung mendapatkan keturunan karena Sarah mandul. Padahal sebelumnya wahyu yang disampaikan oleh 3 malaikat sekaligus, Jibril, Mikail dan Israfil menyampaikan bahwa dari Ibrahim a.s. akan lahir keturunan luar biasa dalam sejarah Islam.
 
Akhirnya dengan penuh kerelaan hati, keikhlasan dan harapan, Sarah meminta Ibrahim a.s. menikahi hamba sahayanya, Hajar. Ibrahim a.s. pun menikah dengan Hajar dan mereka dikaruniai seorang putra, Ismail a.s. Sarah memperlakukan dan menyayangi Hajar dengan baik. Sarah menyayangi Ismail seperti anaknya sendiri.
 
Di usia 90 tahun mukjizatpun hadir. Sarah hamil dan melahirhan Ishaq a.s. Sarah membesarkan dan mendidik Ishaq a.s. hingga akhirnya Ishaq a.s. menikah dengan Rifqah.
 
Ibrahim a.s. dan Sarah merupakan awal lahirnya para nabi-nabi yang mendakwahkan ajaran Allah. Sarah berperan penting dalam dakwah sang khalilullah, nabi Ibrahim, a.s. dan keponakannya Luth a.s.
 
Dari Sarah dan Ibrahim a.s. lahirlah anak mereka Ishaq a.s. Ishaq menikah dengan Rifqah dan dikaruniai Ya’qub a.s. dan Aishu. Dari Ya’qub lahirlah Yusuf a.s., Musa, a,s, Harun a.s, Yunus, a.s. Ilyas a.s., Ilyasa a.s., Dawud a.s., Sulaiman a.s., Zakaria a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s. Demikian pula Aishu menurunkan nabi Ayub a.s. dan Dzulkifli a.s. Sementara dari garis keturunan Hajar dan Ibrahim lahirlah Ismail dan dari garis keturunan Ismail a.s. lahirlah Muhamamad.
 
Sarah hidup dikelilingi oleh para nabi. Maka, wajarlah jika kemuliaan, ketangguhan, dan kasih saying Sarah patut diteladani. Bahkan kepada Hajarpun Sarah tidak merasa cemburu berlebihan. Sarah wafat pada 1794 SM dan dimakamkan di al-Khalil Hebron.

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

Ikuti Falih Media di Google News

Comment