Biografi dan Riwayat hidup Fethullah Gulen

Biografi dan Riwayat hidup Fethullah Gulen, oleh Liffiani, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain) Pamekasan
FALIHMEDIA.COM – M. Fethullah Gulen lahir di Erzurum Anatolia Timur Turki pada tanggal 27 April 1941 di tengah keluarga yang sederhana, religius dan salaf. Ada yang menyebutkan bahwa kelahiran Fethullah Gulen pada tahun 1938, 1941, atau 1942, disebuah kota kecil di korucuk, provinsi Erzurum, turki Utara.
M. Fethullah Gulen adalah seorang mubaligh, penulis, dan pendidik yang hidup dalam interpretasi di Pennsylvania, Amerika Serikat. Kelahiran Gulen bersamaan dengan kejadian besar yang tengah berlangsung di Turki : Kekhalifahan Utsmania kalah dalam Perang Dunia 1, lalu diubah oleh Mustafa Kemal Attaturk menjadi republik modern yang kita kenal dengan Turki modern.
Fethullah Gulen merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Bapaknya bernama Remiz Efendi, seorang Mulla (imam) di desa itu. Erzurum dikenal sebagai daerah dengan penduduk yang konservatif dan shalih. Di sana pula lahir dan hidup Sufi besar Said Nursi. Ia memulai pendidikan di sekolah pemerintah selama tiga tahun.
 
Setelah ia menyelesaikan pendidikan dasar, bapaknya dipindahkan ke masjid di kota lain di mana tidak ada sekolah menengah. Mulai saat itu ia belajar Bahasa Arab secara otodidak di bawah bimbingan bapaknya dan belajar al-Qur’an dengan Ibunya.
 
Setelah menyelesaikan pendidikan dirumah, ia menjadi seorang pendamping seorang syeh sufi di mana ia memperlancar Bahasa Arab dan hafalan al-Qur’an. Selanjutnya ia belajar tasawuf kepada Muhammad Luthfi Efendi, seorang Syaikh Sufi penting pada masa itu dan memiliki hubungan genealogis dengan Jalaluddin Rumi.
 
Dengan Syekh Efendi ia bukan hanya belajar tasawuf, namun juga ilmu keislaman yang lain. Bahkan ia dimulai dengan pengetahuan “umum” yang populer di dunia Barat, serta mulai belajar pemikiran filosof dan sastrawan ternama seperti Immanuel Kant, David Hume, Albert Camus dan Jean Paul Sartre.
 
Kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Imam Hatib di mana ia belajar fiqh Islam, terutama mazhab Hanafi. Ia juga mulai belajar metologi tafsir al-Qur’an. Sehingga ketika ia mendapatkan ijazah keguruan pada tahun 1959, ia sudah sangat lancar dalam Bahasa Arab, teologi, sufisme, fiqh dan pemikiran filsafat Islam dan filsafat Barat.
 
Dalam usia 19 tahun ini Gulen ditugaskan menjadi pengajar di Endirne, sebuah daerah yang jauh lebih heterogen dibandingkan dengan daerah asalnya. Alasan daerah ini banyak dihuni oleh Muslim yang berasal dari Balkan.
 
Pada masa ini pula Gulen mulai mempelajari Risalah-I Nur karya Said Nursi. Dan karya ini telah mempengaruhi cara pandangya dari Islam dalam tatanan lokalitas kepada Islam dalam tatanan kosmopolit. Pada tahun 1966 ia pindah ke Izmir, sebuah daerah yang jauh lebih liberal dalam memahami agama.
 
Saat itulah Gulen mulai percaya diri dengan pemikiran dan metode pengajarannya. Ia memperkenalkan “Perkemahan Musim Panas” (semacam Pesantren Kilat) kepada anak-anak dan remaja. Dalam program ini mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga sejarah dan biologi.
 
Tujuannya adalah menciptakan generasi terdidik Islam yang sadar dengan berbagai macam pengetahuan sejak usia dini. Sayangnya dengan metode ini Gulen dianggap oleh pemerintah telah memprovokasi siswa untuk menantang negara dan mengajarkan Islam sesat. Ia ditahan dan dipenjara selama enam bulan. Setelah bebas, ia kembali mengajar di Izmir hingga tahun 1980.
 
Setelah keluar dari penjara ia mengubah metode pengajarannya menjadi lebih lembut dan tidak konfrontatif dengan pemerintah. Ia mulai menggunakan media cetak, lembaga pendidikan, menguasai pasar dan mendorong pengikutnya untuk menempuh karir dengan menjadi pengusaha, guru, insinyur, dokter dan lain sebagainya.
 
Ia menekankan pentingnya pengajaran agama dengan contoh, bukan dengan doktrin dan sesuatu yang normatif. Gulen dan pengikutnya mendapat keuntungan dengan pergantian rezim di Turki. Di bawah pemerintahan Turgut Ozal pada tahun 1980 Gulen mendapatkan kesempatan untuk melakukan gerakan yang lebih terbuka dalam melakukan pengembangan pendidikan kepada umat Islam.
 
Ia mulai dikenal melalui publikasi di media dan televisi, ia juga menulis lebih dari 40 judul buku dan berkontribusi dalam banyak publikasi lainnya. Ia sendiri menerbitkan majalan The Fountain dan Zaman.

Karya-karya Fethul Gulen, diantaranya adalah;

Ribuan kaset dan video berisi ceramah dan kuliah yang disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Asrin Getirdigi Tereddutler. (4 vol.; telah muncul sebagai buku buku pertanyaan dan jawaban tentang Islam).

Kalbin Zumrut Tepeleri. (diterjemahkan sebagai Key Concepts in the Practice of Sufisme [dalam edisi Indonesia terbitan Sri Gunting dengan judul Kunci-Kunci Rahasia Sufi).

Cag dan Nesil. (Era sekarang dan Genarasi Muda).

Sonsuz Nur. (2 vol. Nabi Muhammad: Aspek-aspek Kehidupanya (dalam edisi Indonesia diterbitkan oleh Republika dengan judul Cahaya Abadi Muhammad Saw. Kebanggaan Umat Manusia).

Olcu dan Yodaki Isiklar. (4 vol.; telah muncul sebagai Permata Kebijaksanaan).

Zamanin Altin Dilimi. (Bagian Emas dari Masa).

Renkler Kusaginda Hakikat Tomurcuklari. (2 vol.; telah muncul sebagai Kebenaran melalui Warna).

Kirik Mizrap. (Plektrum yang Retak).

Fatiha Uzerine Mulahazalar. (Perenungan atas surat Fatiha).

Inancin Golgesinde. (Esensi Iman Islam).

Cihad : I’layi Kelimetullah. (Berisi penjelasan ilmiah dan teoretis tentang jihad di zaman modern).

Irsad Ekseni. (Berisi penjelasan mengenai berbagai metode dan teknik yang dapat dilakukakan dalam pengerakan di zaman modern).

Kitab ve Sunnet Perspektifinde Kader. (Berisi penjelasan tentang takdir, diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Qadar).

Pemikiran Fethul Gulen Tentang Pendidikan Islam

M. Fethullah Gulen menyatakan bahwa kewajiban manusia adalah memahami (Seek Understanding), dengan jalan dan cara apapun. Gulen mendefinisikan pendidikan sebagai proses penyempurnaan dalam kehidupan yang karenanya kita dapat mencapai dimensi spiritual, intelektual dan kemanusiaan fisikal.

Baginya, pendidikan adalah tugas Ilahiyah yang hanya dengan itulah kita bisa merasakan esensi kemanusiaan. Pendidikan dalam perspektif Gulen adalah “Layanan Khusus” yang menjadi tugas kolektif berbasis komunitas.

Hal ini disebabkan pencampuran bahwa tujuan hidup terletak pada kebaikan (baca: berbuat baik) yang dilakukan secara bersama-sama. Pandangan Gulen tentang pendidikan dengan demikian tersimpul dan terkait erat dengan sisi keimanannya (terintegrasi sepenuhnya dengan keyakinannya).

Tujuan Pendidikan

Pada dasarnya setiap manusia memiliki tujuan yang ingin dicapainya, begitu pula dengan pendidikan juga mempunyai tujuan, hal ini tentunya saling berkaitan. Karena pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia.

Menurut Fethullah Gulen tujuan pendidikan adalah membentuk kegilaan yang berguna. Dalam dasar-dasar pendidikan serta menjelaskan peran itu harus dimainkan oleh Fethullah Gulen untuk membahas tujuan utama dari proses pendidikan.

Pertama-tama Gulen melihat individu manusia berada di pusat dari setiap masalah besar umat manusia serta solusinya. Solusi jangka panjang masalah sosial seperti kurangnya pendidikan dan kemiskinan.

Sayangnya, dinamika yang mendasari pendekatan Gulen adalah dalam bidang pendidikan, saling pengertian, menghargai, memberi kesempatan, dan harapan. Jadi, tujuan utama pendidikan terdiri dari pembangunan karakter.

Fethullah Gulen menekankan pentingnya pendidikan dan pengajaran dari sudut yang lain. Kita menjadi manusia hanya karena kita belajar, mendidik dan menginspirasi orang lain. Esensi kemanusiaan kita bukanlah akal, otak ataupun pikiran, tetapi penggunaan akal agar berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Pendidik

Pekerjaan mengajar dalam pandangan Gulen adalah pekerjaan yang paling mulia sekaligus sebagai tugas yang paling agung. Seperti yang dikemukakannya: “Aku akan menjadi hamba siapapun yang mengajariku satu huruf. Karena belajar ilmu adalah perintah Allah swt.

Ada pun pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan serta menyucikan hati, hingga hati itu menjadi sangat dekat kepada Allah swt. Oleh karena itu, pengajaran ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama ia mengajarkan ilmu pengetahuan sebagai bentuk ibadah kepada Allah, dan kedua menunaikan tertanam sebagai khalifah di muka bumi.

Di katakan khalifah Allah, karena Allah telah membukakan hati seorang, alim dengan ilmu, yang mana dengan itu pula seorang alim menampilkan identitasnya. Fethullah Gulen membangun agar seorang pendidik bertindak sebagai seorang ayah dari peserta didiknya. Kesucian hati seorang pendidik juga menjadi prioritas utama, karena seorang pendidik sebagai peserta didik ibarat bayangan kayu. Bayangan tidak mungkin lurus bila kayunya bengkok.

Fethullah Gulen mempunyai metode tersendiri dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didiknya. Perhatian Gulen tentang metode ini lebih difokuskan pada metode khusus bagi pelajaran agama untuk anak-anak. Cendekiawan besar ini menangatakan perlunya memilih metode yang tepat dan sejalan dengan sasaran pendidikan. Berdasarkan hadis Nabi saw, “Sampaikan ilmu sesuai dengan kadar kemampuan akal”, Gulen mencegah agar ilmu agama dan ilmu umum diberikan sesuai dengan tabiatnya, sesuai dengan kemampuan dan kesiapan peserta didik.

Adapun metode yang digunakan oleh Fethullah Gulen adalah metode keteladanan bagi mental anak, pelatihan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat pada diri mereka. Maksudnya adalah memberikan contoh secara perbuatan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip pendidik yang baik.

Untuk melakukan hal tersebut Gulen memberikan asas-asas metode dalam mengajar dan mendidik yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam mengajar, yaitu:

Pendidik sebaiknya menjelaskan sebuah topik pada tingkat pemahaman peserta didik. Maksudnya adalah seorang pendidik haruslah paham dan tahu mana peserta didik yang cerdas dan lemah pemahamannya dan yang mudah menangkap pelajaran serta kemampuan peserta didik dalam menerima pelajaran yang disampaikan juga mana pelajaran yang pas dan cocok untuk mengajar sesuai dengan kondisi dan daya pikir peserta didik tersebut.

Hal tersebut perlu diperhatikan agar pelajaran yang disampaikan tersebut dapat dipahami peserta didik tersebut, dicerna serta diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga membawa manfaat dalam dirinya.

Seorang pendidik harus berusaha untuk mengajar dengan cinta dan mengajarkan ilmu mereka dengan cara yang terbaik. Maksudnya adalah seorang pendidik dalam memberikan penjelasan ketika menyampaikan pelajaran haruslah dengan penjelasan yang jelas dan terperinci tanpa ada yang disembunyikan darinya.

Jangan berpindah ke materi lain sebelum benar-benar dipahami oleh peserta didik. Hal tersebut dilakukan adalah untuk menghindari ketidakpahaman peserta didik dalam memahami pelajaran yang dipelajarinya, dan menghindari mendangkalnya otak dan meningkatkan pikiranya serta mendorong pemahamannya.

Kesalahan seorang peserta didik tidak boleh diumbar dan diperbincangkan didepan teman mereka untuk mempermalukan mereka. Pembelajaran memerlukan sikap toleransi dan sikap memaafkan.

Hal tersebut dilakukan agar peserta didik tidak menyimpang dari guru. Karena jika peserta didik didik dengan pendidik maka ia tidak akan belajar dengan efektif.

Jika diperlukan pendidik sebaiknya mendengarkan peserta didik yang berbagai masalah, memberi dukungan, dan membantu mereka. Selalu memberikan pengertian dan nasihat-nasihat.

Nasehat perlu diberikan kepada siswa dengan tujuan agar mereka bisa berjalan sesuai dengan tutunan agama, dan menghindar dari kenakalan dan maksiat.

Peserta Didik

Menurut Fethullah Gulen peserta didik adalah manusia yang memiliki fitrah atau potensi untuk mengembangkan diri. Fitrah atau potensi tersebut mencakup iradah, akal, hati, hati nurani, perasaan dan jiwa yang mana kala diberdayakan secara baik akan menghantarkan seseorang bertauhid kepada Allah dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Manusia itu terdiri atas substansi, yaitu Pertama, substansi jasad, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah Swt yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti aturan, hukum, ketentuan Allah Swt yang berlaku di alam semesta. Kedua, substansi nonjasadi, yaitu penghembusan peniupan ruh ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensi dan fitrah.

Hal yang harus dilakukan oleh peserta didik, antara lain;

Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak.

Jangan lalai dalam menuntut ilmu karena diri merasa kaya atau mampu atau berkedudukan tinggi.

Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya sehingga hatinya hanya terikat pada ilmu.

Tidak bermaksud sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan tidak memuji guru, bahkan ia harus menyerahkan urusannya kepadanya.

Menjaga diri dari mendengarkan audio diantara manusia.

Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga ia dapat mengetahui hakikatnya.

Mencurahkan perhatian terhadap ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.

Hendaklah tujuan murid itu adalah untuk mnghiasi batinnya dengan sesuatu yang akan dipersembahkannya kepada Allah SWT.

Peserta didik dalam menuntut ilmunya berkeinginan untuk mencari keridhaan Allah Swt, sebab dengan ilmu yang luas itulah dapat mengenal Allah Swt.

Kurikulum

Kurikulum merupakan suatu hal yang penting karena kurikulum bagian dari program pendidikan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan bukan semata-mata hanya menghasilkan suatu bahan pelajaran.
 
Kurikulum tidak hanya memperhatikan perkembangan dan pembangunan masa sekarang tetapi juga memperhatikan masa depan. Untuk mengetahui konsep kurikulum menurut Fethullah Gulen dapat dilihat dari sekolah yang didirikan dengan ide-idenya.
 
Kurikulum sekolahsekolah yang Didirikan di berbagai negara berdasarkan pendapat Fethullah Gulen. Sekolah-sekolah ini bermotto “lingkungan yang tepat untuk belajar”, ​​tekanan diri pada kurikulum yang berbasis pengembangan skill, pengetahuan dan akhlak sebagai misinya.
 
M. Fethullah Gulen mengatakan: “Agama dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang berbeda tetapi dua hal yang esensial dan melengkapi satu sama lain. Belajar sains dan agama harus sama-sama dipandang sebagai kegiatan ibadah.
Sains hanyalah sesuatu yang berusaha mengamati dan mempelajari ayat-ayat kauniyyah Allah yang Maha Esa. Karenanya, agama akan memadu agar ilmu pengetahuan tetap dijalan yang seharusnya”. Ciri khas sekolah yang terinspirasi M. Fethullah Gulen adalah sebagai berikut;

Berusaha membentuk pelajar yang tidak hanya unggul dalam hal sains dan karakter, tetapi juga menonjol secara sosial, emosional dan dalam kinerja fisik semisal dibidang seni.

Sebuah kurikulum yang terus menerus direvisi dan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Membantu siswa mencapai tujuan realistis yang menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya mereka, dan kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan sekitar untuk membantu mereka menjadi toleran, berpikiran terbuka dan menghormati budaya lain dalam konteks multikultural di kawasan dan lingkungan internasional.

Terintegrasi dengan teknologi. Semua sekolah yang terinspirasi Gulen pasti mendukung pengajaran sains dengan menyediakan fasilitas pengajaran komplit yang dilengkapi laboratorium. Karenanya tak heran bila dalam olimpiade “sains”, banyak siswa yang menyabet berbagai penghargaan internasional.

Kombinasi Kurikulum Nasional dan Internasional. Secara umum, kurikulum yang diterapkan di sekolah mengacu pada kurikulum nasional.

  Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon
Penulis: Liffiani, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain) PamekasanEditor: Redaksi