Sains  

Bayangan Kelap Kelip Beri Petunjuk Terciptanya Tata Surya

FALIHMEDIA.COM – Bayangan misterius berkelap-kelip di ruang angkasa ini mengungkapkan perkiraan bagaimana Tata Surya terbentuk miliaran tahun yang lalu.

Bayangan ini terdapat pada bintang TW Hydrae. Usianya baru 8 juta tahun, relatif sangat muda dibandingkan dengan pusat Tata Surya. Matahari, bintang pusat Tata Surya, berusia sekitar 4,6 miliar tahun, seperti dikutip dari Science Alert.

TW Hydrae yang diorientasikan sedemikian rupa memungkinkan astronom John Debes dari the Space Telescope Science Institute dan rekan-rekan peneliti dapat melihat piringan protoplanetnya secara langsung.

Jaraknya yang relatif dekat dengan Bumi, sekitar 200 tahun cahaya, memungkinkan tim peneliti melihat lebih jauh tempat pembentukan planet-planet di sistem TW Hydrae, seperti dilaporkan Debes dkk di the Astrophysical Journal.

Sistem konstruksi planet di sistem TW Hydrae dinilai sangat mirip dengan sistem Tata Surya. Karena itu, pengetahuan terkait bintang dan planet-planetnya ini menurut peneliti dapat memberi petunjuk tentang bagaimana Tata Surya Tercipta.

TW Hydrae yang berusia relatif sangat muda membuatnya belum mulai membakar hidrogen di intinya. Bintang ini masih menghimpun massa dan dan menyusut karena gravitasi mengikatnya lebih jauh seiring bertumbuh.

TW Hydrae dianggap tampak sangat mirip dengan Matahari, dengan radius sedikit lebih besar, tetapi beratnya 40 persen lebih ringan.

Saat bintang-bintang terbentuk, benda langit tersebut menghirup debu dan gas dari ruang angkasa yang ada di sekitarnya. Debu dan gas inilah yang tersusun menjadi piringan di sekitar TW Hydrae.

Bagian-bagian kecil material piringan bintang itu lalu menggumpal, membentuk gumpalan lebih besar, bertabrakan satu sama lain, hingga terbentuk planet.

Planet-planet tersebut terbentuk dari piringan relatif datar sehingga juga mengorbit bintang di bidang yang juga kurang-lebih datar setelah semuanya terbentuk sempurna.

Sebelumnya pada 2017, para astronom yang menganalisis gambar teleskop Hubble mendapati ada bayangan yang menyapu piringan TW Hydrae. Rotasinya searah jarum jam dalam waktu 16 tahun.

Para peneliti saat itu mengira bayangan tersebut bisa jadi bukti adanya ‘bayi’ planet tidak terlihat yang berasal dari materi di piringan.

Tim astronom ini menduga, bisa jadi karena adanya planet itulah maka bagian piringan TW Hydrae mengorbit di bidang yang berbeda. Bayangan misterius itu mengorbit dengan perbedaan kemiringan 5-7 derajat dari piringan luar TW Hydrae.

Penelitian kembali pada 2021 mengungkapkan kejutan bagi para astronom. Peneliti menemukan bahwa dalam perbedaan orbit ini, terdapat bayangan pada tiga piringan yang menandakan adanya planet-planet baru.

Data menunjukkan piringan pertama berukuran antara 5-6 unit astronomi, lalu piringan kedua berukuran 6-7 unit astronomi.

Sebagai perbandingan, Jupiter mengorbit pada jarak 5,2 unit astronomi. Dengan demikian, ‘Tata TW Hdyrae’ cukup konsisten dengan arsitektur Tata Surya.

Tim peneliti menjelaskan, tiap planet di Tata Surya memiliki kemiringan orbit bervariasi hingga 7 derajat. Mereka menyimpulkan, TW Hdyrae dapat menjadi jendela pengetahuan bagaimana orbit Tata Surya dapat bervariasi.

Dengan instrumen lebih mumpuni, peneliti berharap manusia bisa menemukan lebih banyak lagi sistem bintang selain Matahari dan planet-planet yang baru.

  Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon