News  

Konten Habib Ja’far di Warung Kelontong Milik Warga Sumenep Viral, Ini Tanggapan Wakil Ketua PC NU Sumenep

FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Jagat maya dihebohkan dengan konten video Habib Husein Ja’far Al-Hadar yang diunggah Sabtu (28/1/2023) kemarin yang berjudul Filosofi Toko Kelontong Madura. Dalam video tersebut, Habib Ja’far tertawa lepas saat mewawancarai salah satu pedangang toko kelontong asal Batang-Batang Kabupaten Sumenep Madura yang mengadu nasib di daerah Jakarta.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Kiyai A Dardiri Zubairi menyatakan, gara-gara Habib Ja’far berkunjung ke warung kelontong Madura tersebut yang kebanyakan pemiliknya berasal dari Kabupaten Sumenep, viral dan dijadikan story oleh Nahdliyin.

Diceritakannya, Habib Ja’far ngobrol bersama penjaga warung Madura. Di dalam obrolan tersebut tampak sekali seorang penjaga warung gigih, cerdas, lucu, dan juga arif. Kegigihnya, lanjutnya, karena warung kelontong buka 24 jam. Dan dijaga 2 orang yang kebanyakan dilakukan oleh suami istri, bergantian selama paruh hari. Siang piket istri, malam harinya piket suaminya.

“Yang saya nilai, dari penjaga warung kelontong tersebut adalah tak pernah gentar ketika harus bersaing dengan swalayan yang mengepung kota. Meski warung mereka kecil tapi indah. Mengingat hal tersebut, saya menjadi ingat sebuah buku jadul yang lupa pengarangnya mengatakan, The Small Is Beautiful,” ucapnya. Senin (30/01/2023) kemarin.

Lebih lanjut terang Kiyai Dardiri, penjaga warung madura tersebut dikatakan cerdas karena warung ditata dengan sangat rapi. Kecerdasan tersebut, menurut Kiyai Dardiri, sama seperti saat melihat di depan warung ada pom mini. Ini juga sebenarnya strategi yang sangat cerdas.

“Selain memiliki untung yang sudah jelas dari penjualan bensin pertamini, kebutuhan penduduk kota terutama yang naik motor. Harapannya pengendara motor akan membeli barang lain, misalnya minuman ataupun makanan. Jadi pom mini ini sebenarnya sebagai umpan yang sama seperti ketika mau mancing,” terangnya.

Menurut Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura, penjaga warung juga sangat lucu. Kekhasan yang jenaka tersebut sehingga membuat Habib Ja’far tertawa lepas saat membuat konten.

“Ketika habib bilang, toko baru tutup saat kiamat. Justru penjaga toko madura tersebut menjawab, kiamat akan tetap buka meski setengah hari, siapa tahu nanti ada yang lapar. Juga ketika ditanya habib Ja’far soal kebutuhan biologisnya karena buka 24 jam, si penjaga toko menjawab, pasti akan selalu ada trik. Maksudnya, dalam setiap tantangan pasti akan selalu ada peluang, kira-kira begitu,” paparnya.

Hal terakhir, ujar Kiyai Dardiri, penjaga warung tersebut sangat memahami kearifan orang Madura. Sehingga ketika ditanya, apa tidak takut bersaing dengan swalayan? Jawabnya sangat arif sekali, sehingga habib Ja’far tersenyum sembari mengajungkan jempolnya.

Ia mengutarakan, jawaban penjaga warung tersebut sangat sederhana. Yakni, makanan semut tidak mungkin dimakan gajah, sebaliknya makanan gajah tidak mungkin dimakan semut.

Jika dilihat secara fenomenologi, sambung Kiyai Dardiri, banyak sekali kearifan orang Madura lainnya terkait soal rezeki. Sebab dalam sudut pandang dan kepercayaan orang Madura tentang rezeki tidak mungkin tertukar dan juga Allah tidak memberi kerja, akan tetapi memberi rezeki. Jadi, kearifan ini tidak bisa dimaknai secara harfiah.

Terima kasih Habib Ja’far yang sudah membuat konten soal warung kelontong orang madura. Semangat untuk saudaraku para pejuang warung kelontong,” ucap alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu. (Firdausi/Konengan/Team)

  Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon