BEM UISI Mengabdi di Pulau Giliraja Giligenting, Berikut Keseruannya

bem-uisi-mengabdi-di-pulau-giliraja-giligenting
Salah satu Mahasiswa BEM UISI Pengabdi Masyarakat memimpin senam disekolah

FALIHMEDIA.COM | BANMALENG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) mengadakan Pengabdian Masyarakat di Pulau Giliraja Desa Banmaleng, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, pada Minggu (05/02/2023) kemarin.

Kegiatan yang bertema pendidikan dengan judul “Sistem Pendidikan Cakrawala Berwawasan Global dengan Metode Lokal pada Siswa dan Masyarakat Desa Banmaleng” tersebut digagas oleh Tim BEM UISI terdiri dari Nurul Jannah, Aulia Hapsari, Diah Frismawati, Teo Arya, Dhimas Ardhianto, Afiifah Durrotul, Pipin Ervina, Uais Irshab Risanorio, Dwina, serta Akbar Alfaiz dengan didampingi Presiden BEM UISI Ardha Bintang Rivanda.

Salah satu anggota pengabdi masyarakat, Afiifah menjelaskan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini yakni untuk memberikan pencerahan terhadap masyarakat setempat, bahwa pentingnya konsep pendidikan yang berkembang pada setiap aspek kehidupan.

“Tentu saja. Masyarakat disana sangat ramah dan menyambut kedatangan kami dengan baik, dari kepala desa dan perangkatnya dan juga kepala yayasan tempat kami mengajar juga sangat kooperatif,” jelasnya.

BEM UISI sendiri, lanjut Afiifah mengadakan beberapa kegiatan yang seru dan menyenangkan. Beberapa diantaranya yakni Pengetahuan seputar food waste dan pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik, dasar parenting, kebersihan dan kesehatan pada ibu-ibu setempat, asah kreativitas siswa melalui pelatihan membuat kerajinan dan tape singkong, penjelajahan pramuka untuk siswa sekolah dasar sampai dengan menengah atas, pembelajaran eco-enzym, tarian tradisional dari berbagai daerah dan masih banyak lagi.

“Pengalaman lain kami dapatkan saat proses belajar mengajar berlangsung. Mungkin selama ini kita punya banyak ilmu terkait basic kesehatan, ecoenzym, foodwaste, pengelolaan sampah, pengetahuan dan keterampilan budaya daerah, namun saat ilmu yang kita miliki tersebut kita bagikan dan bermanfaat tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kami melakukan kegiatan secara bersama-sama dan tiap anggota saling membantu satu sama lain. Antusiasme peserta didik juga sangat tinggi, mereka seperti menganggap kami sebagai keluarga atau kakak sendiri,” ucapnya.

Selama disana, kata Afiifah kami menemukan beberapa kendala seperti jaringan internet yang sulit dan terbatas satu satu atau dua provider saja serta akses listrik dari PLN yang hanya menyala pada pukul 18.00 WIB sampai dengan 00.00 WIB dan selebihnya menggunakan genset atau pembangkit mandiri, sehingga kami harus benar-benar menghemat penggunaan ponsel dan laptop yang kami bawa.

“Selain itu, kendala lain yakni pada segi bahasa, dimana umumnya masyarakat menggunakan logat dan Bahasa Madura dalam bercengkerama sehari-hari, namun mayoritas warga setempat sudah mampu menggunakan Bahasa Indonesia. Justru dengan hal ini tim pengabdian masyarakat BEM UISI menjadi belajar beberapa kosa kata baru dalam Bahasa Madura baik dari anak-anak maupun bapak ibu masyarakat setempat,” katanya.

Afiifah juga berharap output yang telah diajarkan kepada para siswa dan masyarakat setempat dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah diajarkan setelah BEM UISI tidak lagi mengabdi disana.

“Meskipun saat ini pengabdian masyarakat sudah berakhir, namun masyarakat setempat masih sering berlatih tari tradisional yang kami ajarkan dan kembali mengajarkan teman yang lainnya lagi sehingga ilmu tersebut semakin tersalurkan. Hal sama juga terjadi pada pengelolaan limbah plastik menjadi kerajinan serta praktik fermentasi singkong menjadi tape. Mereka juga melakukan hal tersebut selepas pengabdian kami selesai,” pungkasnya. (Helly Z/Team)

  Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon